<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu Muslim Al Falimbany</title>
	<atom:link href="http://alfalimbany.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alfalimbany.wordpress.com</link>
	<description>Meniti Jejak As-Salaf As-Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 14:12:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alfalimbany.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abu Muslim Al Falimbany</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alfalimbany.wordpress.com/osd.xml" title="Abu Muslim Al Falimbany" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alfalimbany.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Perbedaan Antara Bantahan Terhadap Ahlul Bida’ Dan Bantahan Terhadap Ahlus Sunnah</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/09/02/perbedaan-antara-bantahan-terhadap-ahlul-bida%e2%80%99-dan-bantahan-terhadap-ahlus-sunnah/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/09/02/perbedaan-antara-bantahan-terhadap-ahlul-bida%e2%80%99-dan-bantahan-terhadap-ahlus-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 14:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata dalam kitab “Al-Ibanah ‘An Kaifiyah At-ta’amul Ma’ Al-Khilaf Baina Ahli As-Sunnah Wa Al-Jama’ah” halaman 47-49: Perbedaan Antara Bantahan Terhadap Ahlul Bida’ Dan Bantahan Terhadap Ahlus Sunnah Diperbolehkan bagi seorang ulama ahlus sunnah untuk membantah ulama sunnah yang lain jika ada maslahat yang menuntutnya, akan tetapi bantahan terhadapnya berbeda dengan bantahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=743&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah </strong>berkata dalam kitab   “Al-Ibanah ‘An Kaifiyah At-ta’amul Ma’ Al-Khilaf Baina Ahli As-Sunnah Wa   Al-Jama’ah” halaman 47-49:</p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Perbedaan Antara Bantahan Terhadap Ahlul Bida’ Dan Bantahan Terhadap Ahlus Sunnah</strong></h3>
<p style="text-align:justify;">Diperbolehkan bagi seorang ulama ahlus sunnah untuk membantah ulama   sunnah yang lain jika ada maslahat yang menuntutnya, akan tetapi   bantahan terhadapnya berbeda dengan bantahan tehadap ahlul bida’ dan   kesesatan.<span id="more-743"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata sebagaimana dalam “Majmu’   Al-Fatawa” (28/233-234): “Oleh karena itu wajib menjelaskan keadaan   orang yang keliru dalam hadits dan riwayat, orang yang keliru dalam   pandangan dan fatwa dan orang yang keliru dalam hal zuhud dan ibadah.   Jika orang yang keliru itu seorang mujtahid maka kekeliruannya dimapuni   dan dia mendapat pahala atas ijtihadnya. Maka menjelaskan ucapan dan   amalan yang ditunjukkan oleh al-kitab dan as-sunnah adalah wajib,   meskipun kenyataan kitab dan sunnah itu berbeda dengan ucapan dan   amalannya. Siapa yang diketahui darinya ijtihad yang diperbolehkan maka   tidak boleh dia disebutkan saat mengkritik dalam bentuk mencelanya dan   mendosakannya. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengampuni  kekeliruannya.  Bahkan dia harus dicintai dikarenakan apa yang dia  miliki berupa  keimanan, ketakwaan, loyalitasnya, kecintaannya dan  penunaiannya akan  apa yang Allah Ta’ala wajibkan dari hak-hak-Nya  berupa pujian dan do’a  dan selain itu.”.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menjadi inti pendalilan adalah ucapan  beliau: ” maka tidak  boleh dia disebutkan saat mengkritik dalam bentuk  mencelanya dan  mendosakannya”. Dan juga tidak selayaknya manusia diajak  untuk  meghajrnya dan menghentikan pelajarannya, ceramahnya, dan menimba  ilmu  darinya. Dan tidak menghukumi dia itu hizby atau jatuh pada bid’ah   selama dia masih di dalam lingkaran sunnah.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun jika bantahan itu datang dari penuntut ilmu, maka   kebanyakannya mereka itu bukanlah orang-orang yang pantas membantah.   Oleh karenanya engkau temukan pada bantahan-bantahan mereka adanya sikap   melampaui batas, keserampangan dan kezhaliman. Bahkan sebagian mereka   berusaha menampakkan bahwa dia adalah orang yang mampu untuk mengkritik   ulama. Sampai-sampai sebagian mereka menempuh jalan dengan mencela   aqidah seorang ‘alim sunny, padahal belum ada seorangpun dari para ulama   yang mendahuluinya dalam hal itu. Lihatlah perlombaan ini yang pada   hakekatnya adalah kelancangan terhadap ulama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan aku mengatakan kepada orang jenis ini: Jika kau terus dalam   menuntut ilmu dan bisa mengambil manfaat darinya, akan nampak bagimu   pada waktu yang akan datang kesalahanmu ini dan ketergesa-gesaanmu. Maka   hati-hati dari sikap tergesa-gesa pada suatu perkara yang padanya  harus  dihadapi dengan pelan-pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkara-perkara yang bisa membantu untuk berlaku seimbang dan   menggapai sikap adil adalah mengetahui perbedaan antara bantahan tehadap   ahlus sunnah dan ahlul bid’ah. Berikut ini penyebutan sebagian   perbedaan:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bantahan tehadap ahlul bid’ah dan hizbiyah adalah      wajib   kifayah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyaah berkata sebagaimana dalam        “Majmu’ Al-Fatawa” (28/231-232): “Dan seperti imam-imam      bid’ah dari   para pemilik ucapan yang menyimpang dari kitab dan sunnah,      atau   pelaku ibadah yang menyimpang dari kitab dan sunnah, sesungguhnya        menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan umat dari mereka adalah        wajib berdasarkan kesepakatan kaum muslimin…. Dimana pembersihan   jalan      Allah Ta’ala, agama-Nya, manhaj-Nya, syari’at-Nya dan menolak   kezhaliman      mereka serta permusuhan mereka atas hal itu adalah   wajib kifayh      berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Kalaulah bukan   karena Allah Ta’ala      menjadikan adanya orang yang menepis gangguan   mereka niscaya rusaklah      agama ini. Dan niscaya kerusakannya lebih   besar dibanding kerusakan      pendudukan musuh dari pelaku peperangan.   Sesungguhnya mereka jika      menduduki tidaklah akan merusak kalbu  dan  apa yang pada padanya berupa      agama kecuali hanya sebagai imbas   saja. Adapun mereka, merusak kalbu pada      permulaan.”. Berbeda  dengan  seorang sunny yang keliru maka dia      memiliki kesempatan yang  luas,  beruapa nasehat baginya, atau usaha untuk      memperbaiki apa  yang  nampak darinya berupa kekeliruan akan hak orang lain,      jika  bagi  perbaikan tersebut ada ijin syar’i, jika maslahat menuntut untuk        adanya bantahan maka dibantah.</li>
<li>Bantahan terhadap ahlul bid’ah dan hizbiyah tidak      perlu   disebutkan padanya kebaikan mereka. Karena hikmah dari bantahan ini        selain menjelaskan kebenaran dan menampakkan bathilnya suatu  kebathilan       adalah memperingatkan manusia dari mereka dan  menjauhkan dari  mereka.      Berbeda dengan bantahan terhadap seorang  ‘alim dan sunny  maka      diperingatkan dari kekeliruannya bersamaan  tidak  memperingatkan manusia      atau menjauhkan mereka darinya. Dan  dijaga  kedudukannya.</li>
<li>Para penyeru      bid’ah dan hizbiyah diperingatkan dalam bantahan   terhadap mereka dari      mengambil ilmu dari mereka, dan dari   menghadiri khutbah mereka serta      ceramah mereka. Berbeda jika yang   dibantah adalah seorang ahlus sunnah      maka disebutkan dalam bantahan   bahwa dia tidak ikuti dalam kekeliruannya,      dan dia adalah tempat   yang masih bisa dipercaya dan diterima, maka ilmu      ditimba darinya   dan dihadiri majelisnya.</li>
<li>Menghajr pera penyeru bid’ah dan hizbiyah      berdasarkan maslahat.   Berbeda dengan seorang ‘alim dan sunny maka manusia      tidak diajak   untuk menghajrnya.</li>
<li>Mencerca penyeru kebathilan dan menjelaskan      kondisi mereka   terhadap umat adalah tuntutan syar’i sesuai dengan      kemampuan dan   maslahat, dan sesuai dengan kebid’ahan mereka. Berbeda      dengan   bantahan terhadap sunny maka dilakukan dengan kelembutan dan kasih        sayang. Ini adalah asalnya, jika ada tuntutan maslahat untuk keluar  dari       asal ini maka dilakukan dan diukur dengan kadar yang  diperlukan.  Dan      tidaklah dipahami dari ucapanku bahwa orang yang  berbicara  tentang ahlul      bid’ah dan hizbiyah berbicara dengan  zhalim dan  melampaui batas, karena      hal ini adalah haram pada  siapapun. Yang  dimaksud dengan mencerca di sini      adalah menjelaskan  bahaya bid’ah  mereka terhadap muslimin dan menjelaskan      tentang  lancangnya mereka  untuk menyebarkannya dan terfitnahnya manusia       karenanya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Diterjemahkan oleh ‘Umar Al-Indunisy</p>
<p style="text-align:justify;">Darul Hadits – Ma’bar, Yaman</p>
<p style="text-align:justify;">(http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/08/05/perbedaan-antara-bantahan-terhadap-ahlul-bida-dan-bantahan-terhadap-ahlus-sunnah/)</p>
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/fatwa-ulama/'>Fatwa Ulama</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/nasihat/'>Nasihat</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/743/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=743&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/09/02/perbedaan-antara-bantahan-terhadap-ahlul-bida%e2%80%99-dan-bantahan-terhadap-ahlus-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ber-Idul Fitri diatas Sunnah NABI Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/09/02/ber-idul-fitri-diatas-sunnah-nabi-shalallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/09/02/ber-idul-fitri-diatas-sunnah-nabi-shalallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 13:50:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[Idul Fitri merupakan salah satu hari raya yang Allah Subhanallahu wa Ta’la anugerahkan kepada kaum muslimin. Dinamakan Idul Fitri karena ia selalu berulang setiap tahun dengan penuh kegembiraan. Diantara bentuk kegembiraan itu adalah makan, minum, menggauli istri dan lain sebagainya dari hal-hal mubah yang sebelumnya tidak boleh dilakukan di siang hari bulan Ramadhan. Namun akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=741&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em><img class="alignleft" title="Idul Fitr.abumuslim.co.nr" src="http://subhishine.freehostia.com/shine/images/mine/fitri.jpg" alt="Idul Fitri" width="367" height="551" /></em>Idul Fitri merupakan salah satu hari raya yang Allah <em>Subhanallahu wa Ta’la</em> anugerahkan kepada kaum muslimin. Dinamakan Idul Fitri karena ia selalu  berulang setiap tahun dengan penuh kegembiraan. Diantara bentuk  kegembiraan itu adalah makan, minum, menggauli istri dan lain sebagainya  dari hal-hal mubah yang sebelumnya tidak boleh dilakukan di siang hari  bulan Ramadhan. Namun akan lebih menjadi bermakna, tatkala hari yang  mulia tersebut dipenuhi dengan amalan-amalan yang sesuai dengan sunnah  Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.<span id="more-741"></span></em><strong>Kapan Kita BerIdul Fitri?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hari raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Syawwal yang dihasilkan dari ru’yatul hilal bukan dengan ilmu hisab. Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">“Berpuasalah berdasarkan ru’yatul hilal dan berhari rayalah  berdasarkan ru’yatul hilal. Jika terhalangi oleh mendung (atau  semisalnya) maka genapkan bilangan hari bulan tersebut menjadi 30 hari.”  (HR. <strong>Al-Bukhari</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Idul Fitri dan juga shaum (puasa) Ramadhan merupakan syiar keutuhan  dan kebersamaan. Namun sangat disayangkan, terkadang syiar ini ternodai  oleh perselisihan dan perpecahan di antara kaum muslimin dalam  menentukan Idul Fitri ataupun masuknya bulan Ramadhan. Padahal Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">“Shaum (puasa) itu pada waktu berpuasanya kalian (kaum muslimin),  Idul Fitri pada saat kalian (kaum muslimin) berhari raya Idul Fitri, dan  berkurban pada saat kaum muslimin berkurban.” (HR. <strong>At-Tirmidzi</strong> dengan sanad shahih)</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karenanya, para ulama terpandang  seperti Asy-Syaikh Al-Albani  dan Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin d menasehatkan agar setiap muslim  mengikuti pemerintahnya masing-masing. (Lihat Tamamul Minnah hal. 398  dan Asy-Syarhul Mumti’ 6/322)</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu, kami juga mewasiatkan kepada pemerintah –semoga Allah <em>Subhanallahu wa Ta’la</em> merahmati mereka– agar melandaskan keputusan masuk dan keluarnya  Ramadhan secara syar’i, yaitu dengan ru’yatul hilal dan bukan dengan  ilmu hisab.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hukum Shalat Id</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini menjadi tiga  pendapat yaitu: sunnah, wajib kifayah, dan wajib ‘ain. (Lihat Fathul  Bari 8/423-424, karya Ibnu Rajab <em>rahimahullah</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Namun perlu diketahui bahwa Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dan para <em>sahabatnya </em><em>radliyallahu ‘anhum</em> senantiasa mengerjakan shalat tersebut bahkan beliau <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> memerintahkan para gadis dan wanita haidh untuk keluar menuju ke mushalla Id (tanah lapang).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Di Mana Kita Shalat Id dan Apa Tuntunan Syari’at terkait perihal Menuju Tempat Shalat tersebut?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Shalat Id secara syari’at dilaksanakan di mushalla Id (tanah lapang) bukan di masjid, dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dan para sahabatnya <em>radliyallahu ‘anhum</em>,  dalam keadaan mereka sangat memahami keutamaan shalat di Masjid Nabawi  yang menyamai seribu kali shalat di selainnya (kecuali Masjidil Haram).  Tetapi dengan semua itu, Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, Khulafaur Rasyidin dan seluruh sahabatnya <em>radliyallahu ‘anhum </em>tetap melaksanakan shalat Id di mushalla (tanah lapang). Hal ini berlandaskan hadits Abu Sa’id Al Khudri <em>radliyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">“Dahulu Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> selalu keluar menuju mushalla (tanah lapang) untuk melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha…” (HR. <strong>Al-Bukhari</strong> no. 956)</p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em> berkata: “Sunnah Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> sesuai dengan hadits-hadits yang shahih menunjukkan bahwa beliau selalu  mengerjakan dua shalat Id di tanah lapang pinggiran kampung, dan ini  terus berkelanjutan di masa generasi pertama (umat ini), mereka tidak  melaksanakan di masjid-masjid kecuali bila ada udzur atau dalam keadaan  darurat, seperti hujan dan sejenisnya. Inilah madzhab imam yang empat  dan selain mereka dari para imam.” (Lihat Shalatul ‘Idaini fil Mushalla  Hiyas Sunnah, hal. 35).</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga sangat berlebihan orang yang mengatakan bahwa shalat Id  tidak boleh dilaksanakan di masjid walaupun ada udzur atau dalam keadaan  darurat, demikian pula orang yang mengatakan bahwa tidak ada shalat  kalau tidak di tanah lapang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Adab-adab menuju mushalla (tanah lapang)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama:</strong> Berhias dengan pakaian yang terbaik (yang dia miliki), sebagaimana hadits Ibnu Umar <em>radliyallahu ‘anhuma</em>. (HR. <strong>Al-Bukhari</strong> no. 948)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua:</strong> Makan beberapa butir kurma sebelum berangkat, sebagaimana hadits Anas <em>radliyallahu ‘anhu</em>. (HR. <strong>Al-Bukhari</strong> no. 953)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga:</strong> Berangkat dan pulang melewati jalan yang berbeda, sebagaimana hadits Jabir <em>radliyallahu ‘anhu</em>. (HR. <strong>Al-Bukhari</strong> no. 986)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat:</strong> Mengeraskan takbir semenjak keluar dari rumah sampai ditegakkannya shalat. (Lihat Ash Shahihah 1/279)</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun lafazh takbirnya, maka tidak ada satupun hadits yang shahih  yang menentukan bacaannya. Hanya saja terdapat beberapa atsar sahabat  yang shahih yang menerangkan bacaan tersebut. Diantaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">Allahu Akbar Allahu Akbar, Laailaaha illallahu Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamdu atau</p>
<p style="text-align:justify;">Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laailaaha illallahu Wallahu  Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamdu, atau yang lainnya. (Lihat Al-Irwa’  3/125-126)</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam bertakbir tidak disyariatkan untuk dikerjakan secara berjama’ah dengan satu suara. (Lihat Ash-Shahihah 1/279)</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diingatkan, apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin  dengan menambahkan shalawat di sela-sela takbir. Hal ini merupakan suatu  kekeliruan, karena tidak pernah dinukilkan dari Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, Khulafaur Rasyidin dan para sahabatnya <em>radliyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apa Yang Dilakukan Setiba Di Tempat Mushalla Id?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika tiba di tempat shalat, hendaknya terus bertakbir hingga imam  memulai shalat. Adapun shalat sunnah qabliyyah dan ba’diyyah Id, maka tidak ada tuntunannya, sebagaimana hadits Ibnu Abbas <em>radliyallahu ‘anhuma</em>:</p>
<p style="text-align:justify;">“…(Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>) belum pernah sholat  (sunnah) sebelum shalat Id ataupun sesudahnya…”. (HR. <strong>Al-Bukhari</strong> no. 989)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tidak Ada Adzan  dan Iqamah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits Jabir <em>radliyallahu ‘anhu</em> (HR. <strong>Muslim</strong> no. 887). Adapun ucapan: “Ash Shalaatu Jaami’ah”, maka Al-Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata: “Yang sunnah adalah tidak mengucapkan itu semua.” (Lihat Zaadul Ma’ad 1/427).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Wajibnya Shalat Menghadap Sutrah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sutrah adalah sesuatu yang diletakkan di depan orang yang shalat  untuk menghalangi orang yang melewati di hadapannya. Memakai sutrah  merupakan perkara yang wajib bagi imam dalam shalat berjama’ah,  berdasarkan hadits Ibnu Umar <em>radliyallahu ‘anhuma</em>. Beliau berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">“Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> jika keluar menuju  shalat Id ke tanah lapang, beliau memerintahkan dibawakan tombak yang  ditancapkan di hadapannya kemudian shalat menghadap tombak tersebut.”  (HR. <strong>Al-Bukhari</strong> no. 494 dan 972).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tata Cara Shalat Id</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Shalat Id berjumlah dua rakaat, dimulai dengan takbiratul ihram,  kemudian bertakbir 7 kali (selebihnya seperti shalat lainnya). Pada  rakaat kedua bertakbir 5 kali selain takbir perpindahan gerakan dari  rakaat kesatu menuju rakaat kedua, (selebihnya seperti shalat lainnya).  Hal ini yang dijelaskan oleh Al-Imam Al-Baghawi <em>rahimahullah </em>dalam Syarhus Sunnah 4/309. Di antara dasar tata caranya adalah hadits Aisyah <em>radliyallahu ‘anha </em>yang diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya dengan sanad shahih. (Lihat <strong>Al-Irwa’</strong> no. 639)</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun bacaan surat yang disunnahkan padanya adalah Surat Qof dan Al-Qomar. (HR. <strong>Muslim</strong> no. 892), atau  Surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah (HR. <strong>Muslim</strong> no. 878)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan jika ketinggalan shalat bersama imam, maka shalat 2 rakaat yang dilakukan secara sendirian. Al-Imam Al-Bukhari <em>rahimahullah</em> berkata: “Bab: Jika Ketinggalan Shalat Id Maka Shalat 2 Rakaat”. (Lihat Fathul Bari 2/550, karya Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana Dengan Wanita? </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kaum wanita diperintah oleh Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> untuk menghadiri shalat Id, sebagaimana perkataan Ummu ‘Athiyyah <em>radliyallahu ‘anha</em>:  “Kami diperintah untuk menghadirkan gadis-gadis dan wanita-wanita haidh  pada 2 hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha –red), agar mereka  menyaksikan kebaikan dan syiar dakwah kaum muslimin, sedangkan yang  haidh diminta untuk menjauhi tempat shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ada 2 hal yang perlu diingat dalam keluarnya wanita ke mushalla Id:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama:</strong> Hendaknya keluar dalam keadaan menutup  aurat, dengan tidak berhias, tidak memakai wewangian, dan tidak campur  baur dengan laki-laki, karena dilarang oleh Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dan bisa menjadi fitnah bagi kaum lelaki.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua:</strong> Tidak boleh berjabat tangan dengan selain mahramnya, sebagaimana sabda Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> ketika membaiat kaum wanita: ”Sungguh aku tidak berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram).” (HR. <strong>An-Nasa’i, Ibnu Majah</strong>, dan <strong>Ahmad</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Juga sabda beliau <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>: “Benar-benar  kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik daripada  menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisi)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan hukum haramnya perbuatan ini ada di dalam kitab-kitab empat madzhab. (Lihat Ahkamul Idain hal. 82)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hukum Memakai Mimbar Di Dalam Khutbah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> tidak pernah  berkhutbah Id dengan memakai mimbar akan tetapi beliau berdiri di atas  tanah. Adapun orang yang pertama kali berkhutbah Id dengan memakai  mimbar adalah Marwan bin Al Hakam dan perbuatan itu telah diingkari oleh  Abu Said Al-Khudri <em>radliyallahu ‘anhu </em>dan dinyatakan bahwa hal itu menyelisihi sunnah Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>. (Lihat Fathul Bari hadits no. 956 dan Zadul Ma’ad 1/ 429 dan 431)</p>
<p style="text-align:justify;">Kaum muslimin, siapa pun dari kita pasti berharap agar keluar dari  bulan suci Ramadhan dalam keadaan suci dari dosa dan penuh dengan  karunia serta rahmat ilahi. Maka dari itu marillah kita berupaya untuk  menuju kehidupan yang lebih mulia dengan meninggalkan beberapa  kemungkaran yang terjadi pada hari raya Idul Fitri atau sebelumnya. Di  antaranya adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1.         Menyerupai orang-orang kafir dalam hal berpakaian dan berpesta pora.</p>
<p style="text-align:justify;">2.         Menggelar pesta judi, dan bertamasya ke tempat-tempat hiburan dan maksiat.</p>
<p style="text-align:justify;">3.         Pengkhususan ziarah kubur di hari Id atau sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">4.         Pengkhususan malam Id untuk melakukan ritual ibadah tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">5.         Berpuasa di hari Id.</p>
<p style="text-align:justify;">6.         Pelarangan wanita untuk menghadiri shalat Id.</p>
<p style="text-align:justify;">7.         Ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita yang bukan mahram).</p>
<p style="text-align:justify;">8.         Tidak peduli terhadap fakir miskin yang kekurangan di hari itu.</p>
<p style="text-align:justify;">9.         Menghiasi masjid dengan lampu-lampu hias, bunga dan  sejenisnya. Karena yang demikian itu tidak pernah dilakukan oleh  Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dan para shahabatnya <em>radliyallahu ‘anhum</em>.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Buletin Islam Al Ilmu edisi no: 36/IX/VIII</strong></div>
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/sajian-utama/'>Sajian Utama</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/741/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/741/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/741/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=741&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/09/02/ber-idul-fitri-diatas-sunnah-nabi-shalallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subhishine.freehostia.com/shine/images/mine/fitri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Fitr.abumuslim.co.nr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat Ulama dalam Menyambut Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/15/nasehat-ulama-dalam-menyambut-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/15/nasehat-ulama-dalam-menyambut-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 13:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[syaikh bin baz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=734</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullahu ta’ala Beliau rahimahullah pernah ditanya: Samahatusy Syaikh, apa nasehat anda kepada kaum muslimin dan kita semua, dalam rangka menyambut datangnya bulan (Ramadhan) yang memiliki keutamaan ini? Beliau menjawab: Nasehatku kepada seluruh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan adalah hendaklah mereka bertakwa kepada Allah jalla wa’ala, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=734&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align:justify;"><strong>Oleh: Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>rahimahullahu ta’ala</em></strong></h4>
<p style="text-align:justify;"><strong>Beliau </strong><em><strong>rahimahullah</strong></em><strong> pernah ditanya:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Samahatusy Syaikh, apa nasehat anda kepada kaum muslimin dan  kita semua, dalam rangka menyambut datangnya bulan (Ramadhan) yang  memiliki keutamaan ini?<span id="more-734"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Nasehatku kepada seluruh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan adalah hendaklah mereka bertakwa kepada Allah <em>jalla wa’ala,</em> dan hendaklah mereka bertaubat dari semua perbuatan dosa yang telah  lalu dengan taubat yang benar, serta hendaklah mereka memahami agama ini  dengan baik dan mempelajari hukum-hukum tentang masalah puasa dan juga  hukum-hukum yang berkaitan dengan amalan pada bulan ini, karena  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<h2 style="text-align:right;">من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan, maka ia akan difahamkan dalam masalah agama.”</em> [<strong>Muttafaqun 'alaihi</strong>]<a name="_ftnref1" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> juga bersabda :</p>
<h2 style="text-align:right;">إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وسلسلت الشياطين</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Apabila telah memasuki bulan Ramadhan, maka dibukalah  pintu-pintu Al Jannah, ditutuplah pintu-pintu An Naar dan para syaithan  dibelenggu.”</em> [<strong>Muttafaqun 'alaihi</strong>]<a name="_ftnref2" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> juga bersabda :</p>
<h2 style="text-align:right;">إذا كان أول ليلة من رمضان فتحت أبواب الجنة  وغلقت أبواب جهنم وصفدت الشياطين ويناد منادٍ: يا باغي الخير أقبل، ويا  باغي الشر أقصر، ولله عتقاء من النار وذلك في كل ليلة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Apabila memasuki awal malam di bulan Ramadhan maka dibukalah  pintu-pintu Al Jannah, ditutuplah pintu-pintu Jahannam dan para syaithan  dibelenggu. Kemudian berserulah seorang penyeru : ‘Wahai para pencari  kebaikan, sambutlah kebaikan tersebut dan wahai para pelaku kejelekan,  kurangilah kejelekan tersebut. Bahwasanya Allah akan membebaskan para  penghuni An Naar pada setiap malam.” </em>[<strong>HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah</strong>]<a name="_ftnref3" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> juga pernah menyampaikan kepada para shahabat:</p>
<h2 style="text-align:right;">أتاكم شهر رمضان شهر بركة يغشاكم الله فيه  فينزل الرحمة ويحط الخطايا ويستجيب الدعاء فأروا الله من أنفسكم خيراً فإن  الشقي من حرم فيه رحمة الله</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh  barakah, Allah akan datangkan kepada kalian di dalamnya yaitu turunnya  rahmat dan berkurangnya kejahatan-kejahatan serta dikabulkannya do’a,  maka bergegaslah menuju amal-amal kebaikan, dan bersegeralah kepada  ketaatan serta menjauhlah dari amal-amal kejelekan, karena sesungguhnya  orang yang celaka adalah orang yang diharamkan rahmat Allah padanya.”</em><a name="_ftnref4" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan makna dari:</p>
<h2 style="text-align:right;">أروا الله من أنفسكم خيراً</h2>
<p style="text-align:justify;">adalah <em>“Bergegaslah menuju amal-amal kebaikan, dan bersegeralah kepada ketaatan serta menjauhlah dari amal-amal kejelekan.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<h2 style="text-align:right;">من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما  تقدم من ذنبه، ومن قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه،  ومن قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dalam  keadaan iman dan mengharap pahala, maka dia akan diampuni dosa-dosanya  yang telah lalu. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat (tarawih) di  bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka  dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang  menegakkan malam Lailatul Qadr<a name="_ftnref5" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn5"><strong>[5]</strong></a> dalam keadaan iman dan mengharap pahala, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”</em><a name="_ftnref6" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: <em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Allah jalla wa’ala berfirman:</em></p>
<h2 style="text-align:right;">كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى  سبعمائة ضعف إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به، ترك شهوته وطعامه وشرابه من  اجلي للصائم فرحتان فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه، ولخلوف فم الصائم  أطيب عند الله من ريح المسك</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Setiap amalan anak Adam, balasan kebaikannya adalah sepuluh kali  lipat sampai tujuh ratus kali lipat kecuali puasa. Karena sesungguhnya  puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Dia  meninggalkan syahwatnya, makanannya dan minumannya karena-Ku. Bagi orang  yang berpuasa ada 2 kegembiraan yaitu kegembiraan ketika berbuka dan  kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya. Dan bau mulut orang yang  berpuasa adalah lebih wangi daripada bau misik di sisi Allah.”</em> [<strong>HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah</strong>]<a name="_ftnref7" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<h2 style="text-align:right;">إذا كان يوم صوم أحدكم، فلا يرفث ولا يصخب، فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرؤ صائم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa maka janganlah  ia berkata-kata kotor, keji, dan berteriak-teriak. Maka apabila dia  diejek atau diperangi maka katakanlah: aku adalah seorang yang  berpuasa.” </em>[<strong>HR. Al-Bukhari</strong>]<a name="_ftnref8" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<h2 style="text-align:right;">من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan  perbuatannya serta perbuatan kebodohan, maka Allah tidak membutuhkan  usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.”</em> [<strong>HR. Al-Bukhari</strong> dalam <strong>Ash-Shahih</strong>]<a name="_ftnref9" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Maka wasiat kepada seluruh kaum muslimin adalah hendaklah mereka  bertaqwa kepada Allah, hendaklah mereka menjaga puasa yang akan mereka  lakukan, hendaklah mereka membentengi puasa tersebut dari segala  perbuatan maksiat, dan disyari’atkan bagi mereka pada bulan tersebut  untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan amalan-amalan kebaikan dan  berlomba-lomba dalam ketaatan seperti memberikan shadaqah, memperbanyak  membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, bertakbir dan  beristighfar, karena ini adalah bulan Al-Qur’an:</p>
<h2 style="text-align:right;">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” </em>[<strong>Al-Baqarah: 185</strong>]</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga disyari’atkan bagi kaum mu’minin untuk bersungguh-sungguh  dalam membaca Al-Qur’an. Disunnahkan bagi kaum laki-laki dan wanita juga  untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, baik siang maupun malam. Setiap  satu huruf dibalas dengan satu kebaikan, dan setiap kebaikan akan  dilipatgandakan sampai sepuluh kali lipat, sebagaimana yang disebutkan  oleh hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Itu semua  diiringi dengan menjauhkan diri dari segala kejelekan dan perbuatan  maksiat, saling menasehati dalam kebenaran serta memerintahkan kepada  perkara yang baik dan melarang dari perkara yang munkar.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah bulan yang agung. Dalam bulan tersebut balasan terhadap  amalan-amalan shalih akan dilipatgandakan, dan amalan-amalan jelek yang  dilakukan pada bulan tersebut akan mendapatkan balasan kejelekan yang  besar pula. Maka wajib atas setiap mu’min untuk bersungguh-sungguh dalam  menunaikan amalan yang telah Allah wajibkan atasnya dan hendaknya ia  menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hendaklah di bulan Ramadhan tersebut, seseorang memberikan perhatian  yang lebih besar dan lebih banyak (dibanding bulan yang lain),  sebagaimanan disyari’atkan baginya untuk bersungguh-sungguh dalam  melakukan amalan-amalan kebaikan seperti shadaqah, menjenguk orang yang  sakit, mengiringi jenazah, menyambung tali silaturahmi, banyak membaca  Al-Qur’an, banyak berdzikir, bertasbih, bertahlil, beristighfar, berdo’a  dan amalan-amalan kebaikan yang lain. Ini semua dilakukan dalam rangka  mengharap pahala dari Allah dan takut dari hukuman-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita memohon kepada Allah agar memberi taufiq-Nya kepada kaum  muslimin pada perkara-perkara yang diridhai-Nya. Kita juga memohon agar  Allah menyampaikan puasa dan shalat kita serta puasa dan shalat segenap  kaum muslimin pada derajat keimanan dan mengharap pahala dari Allah. Dan  kita juga memohon agar Allah ta’ala menganugerahkan kepada kita dan  seluruh kaum muslimin di berbagai tempat pemahaman terhadap agama ini  dan istiqamah di atasnya. Kita juga memohon kepada Allah keselamatan  dari sebab-sebab yang dapat mendatangkan murka Allah dan hukuman-Nya,  sebagaimana aku juga memohon kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> agar memberikan taufiq kepada para penguasa kaum muslimin dan para  pemimpin mereka, agar Allah memberikan hidayah kepada mereka dan  memperbaiki keadaan-keadaan mereka, dan agar Allah memberi taufiq kepada  mereka untuk berhukum dengan syari’at Allah dalam seluruh urusan mereka  seperti ibadah mereka, tugas-tugas mereka dan seluruh bidang-bidang  urusan mereka. Sekali lagi kita memohon agar Allah <em>ta’ala</em> memberi taufiq kepada mereka dalam hal-hal tersebut. Ini semua dalam rangka merealisasikan firman Allah <em>jalla wa’ala</em> berikut:</p>
<h2 style="text-align:right;">وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah.” </em>[<strong>Al-Maidah: 49</strong>]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga firman-Nya <em>subhanahu wata’ala</em>:</p>
<h2 style="text-align:right;">أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْماً لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)  siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang  yakin?” </em>[<strong>Al-Maidah: 50</strong>]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman-Nya <em>subhanahu wata’ala</em>:</p>
<h2 style="text-align:right;">فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى  يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ  حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga  mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,  kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap  putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”</em> [<strong>An-Nisa': 65</strong>]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga firman-Nya <em>subhanahu wata’ala</em>:</p>
<h2 style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا  اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ  تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ  كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ  وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah  Rasul-Nya serta Ulil Amri diantara kalian. Kemudian apabila kalian  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah  dan Rasul-Nya, apabila kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari  kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama bagimu dan lebih baik  akibatnya.” </em>[<strong>An-Nisa': 59</strong>]<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman-Nya <em>subhanahu wata’ala</em>:</p>
<h2 style="text-align:right;">قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ<em> </em></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya.” </em>[<strong>An-Nur: 54</strong>]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman-Nya <em>subhanahu wata’ala</em>:</p>
<h2 style="text-align:right;">وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”</em> [<strong>Al-Hasyr: 7</strong>]</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang wajib atas seluruh kaum muslimin dan para pemimpin  mereka. Wajib atas para pemimpin kaum muslimin dan ulama mereka serta  kalangan awamnya untuk bertaqwa kepada Allah dan ta’at terhadap syari’at  Allah. Hendaklah mereka menjadikan syari’at Allah ini sebagai pemutus  perkara (hakim) di antara mereka, karena berhukum dengan syari’at Allah  akan membuahkan kebaikan, hidayah, kesudahan yang terpuji, keridhaan  Allah dan akan meraih kebenaran yang telah Allah syari’atkan, dengan  berhukum terhadap syari’at Allah, juga akan terhindarkan dari tindak  kezhaliman.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita memohon kepada Allah taufiq, hidayah, lurusnya niat dan baiknya amalan untuk seluruh kaum muslimin.</p>
<h2 style="text-align:right;">وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه.</h2>
<p style="text-align:justify;">[<strong>Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawi'ah Asy-Syaikh Ibn Baz <em>rahimahullah</em>, juz 15</strong>]</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380207">http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380207</a></p>
<p style="text-align:justify;">Diterjemahkan oleh Muhammad Rifqi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref1">[1]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab “Al-’Ilmu” bab “Man Yuridillahu bihi Khairan  Yufaqqihhu fiddin” no. 71 dan Muslim dalam kitab “Az-Zakat” bab  “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” no. 1037.</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref2">[2]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab “Bad’ul Khalqi” bab “Shifat Iblis wa  Junudihi ” no. 3277 dan Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” bab “Fadhlu  Syahr Ramadhan” no. 1079.</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref3">[3]</a> HR. At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” bab “Maa Ja’a fi Fadhli Syahri  Ramadhan no. 682 dan Ibnu Majah dalam kitab  “Ash-Shiyam” bab “Maa Ja’a  fi Fadhli Syahri Ramadhan” no. 1642.</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref4">[4]</a> Disebutkan oleh Al-Mundziri di dalam At-Targhib Wat Tarhib bab  “At-Targhib fi Shiyami Ramadhan” no. 1490, dan dia mengatakan: Hadits  ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani.</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref5">[5]</a> Maksudnya adalah shalat, dan termasuk pula adalah amal ketaatan yang  lain seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, tasbih, tahlil, tahmid,  istighfar, berdo’a, dan amalan yang lain (<em>pent</em>).</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref6">[6]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” bab “Man Shaama Ramadhana Imanan  wa Ihtisaban” no. 1901 dan Muslim dalam kitab “Shalat Al-Musafirin wa  Qashriha” bab “At-Targhib fi Shiyami Ramadhan” no. 760.</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref7">[7]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab “At-Tauhid” bab “Qaulullahi Ta’ala: <em>Yuriiduuna an yubaddiluu kalaamallaah</em> no. 7492 dan Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” bab “Fadhlu Ash-Shiyam”  no. 1151 serta Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” bab “Maa Ja’a fi  Fadhli Ash-Shiyam” no. 1638.</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref8">[8]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” bab “Hal Yaquulu Inni Sha’im idza Syutima” no. 1904.</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="http://warisansalaf.wordpress.com/2010/08/14/nasehat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-dalam-menyambut-ramadhan/#_ftnref9">[9]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” bab “Man lam Yada’ Qaul Az-Zuur” no. 1903.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber: </strong><a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=528" target="_blank"><strong>http://www.assalafy.org/mahad/?p=528</strong> </a></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/nasihat/'>Nasihat</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/sajian-utama/'>Sajian Utama</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a> Tagged: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/nasehat/'>nasehat</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/puasa/'>puasa</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/ramadhan/'>ramadhan</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/syaikh-bin-baz/'>syaikh bin baz</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/734/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/734/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/734/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/734/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/734/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/734/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/734/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/734/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/734/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/734/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/734/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/734/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/734/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/734/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=734&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/15/nasehat-ulama-dalam-menyambut-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ebook: Indahnya Shalat Malam (Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih)</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/14/ebook-indahnya-shalat-malam-tuntunan-qiyamul-lail-dan-sholat-tarawih/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/14/ebook-indahnya-shalat-malam-tuntunan-qiyamul-lail-dan-sholat-tarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 17:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Download e-Book]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=718</guid>
		<description><![CDATA[Artikel dari Majalah An-Nashihah Vol. 07 Edisi Tahun 1425 H / 2004 yang telah selesai di convert ke PDF. Semoga bermanfaat. Indahnya Shalat Malam Filed under: Artikel Islam, Download e-Book, Fiqh, Kajian Islam, Sajian Utama, Semua Artikel Tagged: puasa, ramadhan, shalat<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=718&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel dari <strong>Majalah An-Nashihah Vol. 07 Edisi Tahun 1425 H / 2004</strong> yang telah selesai di convert ke PDF. Semoga bermanfaat.</p>
<p><a href="http://an-nashihah.com/file/Indahnya Shalat Malam (Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih).pdf">Indahnya Shalat Malam</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/download-e-book/'>Download e-Book</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/'>Kajian Islam</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/sajian-utama/'>Sajian Utama</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a> Tagged: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/puasa/'>puasa</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/ramadhan/'>ramadhan</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/shalat/'>shalat</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/718/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=718&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/14/ebook-indahnya-shalat-malam-tuntunan-qiyamul-lail-dan-sholat-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ebook : Panduan Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/14/ebook-panduan-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/14/ebook-panduan-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 17:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download e-Book]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramdhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Artikel dari Majalah An-Nashihah Vol. 07 Edisi Tahun 1425 H / 2004 yang telah diconvert ke PDF. Semoga bermanfaat. Panduan Puasa Ramadhan Filed under: Download e-Book, Kajian Islam, Semua Artikel Tagged: puasa, ramdhan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=712&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel dari <strong>Majalah An-Nashihah Vol. 07 Edisi Tahun 1425 H / 2004</strong> yang telah diconvert ke PDF. Semoga bermanfaat.</p>
<p><a href="http://an-nashihah.com/file/Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan Al-Qur'an dan As-Sunnah.pdf">Panduan Puasa Ramadhan</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/download-e-book/'>Download e-Book</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/'>Kajian Islam</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a> Tagged: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/puasa/'>puasa</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/ramdhan/'>ramdhan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/712/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=712&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/14/ebook-panduan-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Puasa Ramadhan Di Bawah Naungan Al-Qur`an Dan As-Sunnah</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/13/panduan-puasa-ramadhan-di-bawah-naungan-al-quran-dan-as-sunnah/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/13/panduan-puasa-ramadhan-di-bawah-naungan-al-quran-dan-as-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 13:56:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Sajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ust.dzulqarnain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary Berikut ini kami ketengahkan ke hadapan para pembaca tuntunan puasa Ramadhan yang benar, berupa kesimpulan-kesimpulan yang dipetik dari Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang shohih. Tulisan ini kami sarikan dari pembahasan luas dari berbagai madzhab fiqh dan kami uraikan dengan kesimpulan-kesimpulan ringkas agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=691&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p><strong>Ust. Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary</strong></p>
<p>Berikut ini kami ketengahkan ke hadapan para pembaca tuntunan puasa   Ramadhan yang benar, berupa kesimpulan-kesimpulan yang dipetik dari <em>Al-Qur`an </em>dan Sunnah Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> yang <em>shohih</em>.</p>
<p>Tulisan ini kami sarikan dari pembahasan luas dari berbagai madzhab   fiqh dan kami uraikan dengan kesimpulan-kesimpulan ringkas agar menjadi   tuntunan praktis bagi setiap muslim dan muslimah dalam menjalankan  puasa  Ramadhan.</p>
<p>Harapan kami mudah-mudahan bermanfaat bagi segenap kaum muslimin dan  muslimat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang mulia. <em>Amin Ya Rabbal ‘Alamin</em>.<span id="more-691"></span></p>
<p><strong>1. Beberapa Perkara Yang Perlu Diketahui Sebelum Masuk Ramadhan.</strong></p>
<p>*     Tidak boleh berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan   dengan maksud berjaga-jaga jangan sampai Ramadhan telah masuk pada satu   atau dua hari itu sementara mereka tidak mengetahuinya. Adapun kalau   berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan karena bertepatan dengan   kebiasaannya seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud dan lain-lain, maka   hal tersebut diperbolehkan.</p>
<p>Seluruh hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasululllah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2>لَا تُقَدِّمُوْا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلًا كَانَ يَصُوْمُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ</h2>
<p><em>“Jangan kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua   hari kecuali seseorang yang biasa berpuasa dengan suatu puasa tertentu   maka (tetaplah) ia berpuasa.”</em></p>
<p>*     Penentuan masuknya bulan adalah dengan cara melihat Hilal. Hilal adalah bulan sabit kecil yang nampak di awal bulan.</p>
<p>Dan bulan Islam hanya terdiri dari 29 hari atau 30 hari, sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> tatkala menyebut bulan Ramadhan beliau berisyarat dengan kedua tangannya seraya berkata :</p>
<p dir="rtl">الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ   إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا   لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ ثَلَاثِيْنَ</p>
<p><em>“Bulan (itu) begini, begini dan begini, kemudian beliau melipat   ibu jarinya pada yang ketiga (yaitu sepuluh tambah sepuluh tambah   sembilan,-pent.), maka puasalah kalian karena kalian melihatnya (hilal),   dan berbukalah kalian karena kalian melihatnya, kemudian apabila bulan   tertutupi atas kalian maka genapkanlah bulan itu tiga puluh.”</em></p>
<p>Maka untuk melihat hilal Ramadhan hendaknya dilakukan pada tanggal 29  Sya’ban  setelah matahari terbenam. Selang beberapa saat bila hilal  nampak maka  telah masuk tanggal 1 Ramadhan dan apabila hilalnya tidak  nampak berarti  bulan Sya’ban digenapkan 30 hari dan setelah tanggal 30  Sya’ban secara otomatis besoknya adalah tanggal 1 Ramadhan.</p>
<p>*     Apabila hilal telah terlihat pada satu negeri maka diharuskan   bagi seluruh negeri di dunia untuk berpuasa. Ini merupakan pendapat   Jumhur ‘Ulama yang bersandarkan kepada surat Al-Baqaroh ayat 185 :</p>
<h2>فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</h2>
<p><em>“Maka barangsiapa dari kalian yang menyaksikan bulan, hendaknya ia berpuasa.”</em></p>
<p>Dan juga dari hadits Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim yang tersebut di atas dan hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> :</p>
<h2>صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعَدُّوْا ثَلَاثِيْنَ</h2>
<p><em>“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian   karena melihatnya dan apabila bulan tertutup atas kalian maka   sempurnakanlah tiga puluh.”</em></p>
<p>Ayat dan dua hadits di atas adalah pembicaraan yang ditujukan kepada   seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada di belahan bumi ini,   wajib atas mereka untuk berpuasa tatkala ada dari kaum muslimin yang   melihat hilal.</p>
<p><strong>2. Niat Dalam Puasa</strong></p>
<p>*     Tidak diragukan bahwa niat merupakan syarat syahnya puasa dan   syarat syahnya seluruh jenis ibadah lainnya sebagaimana yang ditegaskan   oleh Rasululllah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> dalam hadits ‘Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<h2>إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىَ</h2>
<p><em>“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung pada niatnya dan setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan.”</em></p>
<p>Karena itu hendaknyalah seorang muslim benar-benar memperhatikan   masalah niat ini yang menjadi tolak ukur diterima atau tidaknya   amalannya. Seorang muslim tatkala akan berpuasa hendaknya berniat dengan   sungguh-sungguh dan bertekad untuk berpuasa ikhlash karena Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>*     Niat tempatnya di dalam hati dan tidak dilafadzkan. Hal ini dapat dipahami dari hadits di atas.</p>
<p>*     Diwajibkan bagi orang yang akan berpuasa untuk berniat semenjak   malam harinya yaitu setelah matahari terbenam sampai terbitnya fajar   subuh.</p>
<p>*     Dan kewajiban berniat dari malam hari ini umum pada puasa wajib   maupun puasa sunnah menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para   ‘ulama.</p>
<p>*     Dan tidak dibenarkan berniat satu kali saja untuk satu bulan   bahkan diharuskan berniat setiap malam menurut pendapat yang paling   kuat.</p>
<p>Tiga point terakhir berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar dan Hafshoh <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> yang mempunyai hukum <em>marfu’</em> (sama hukumnya dengan hadits yang diucapkan langsung oleh Nabi <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em>) dengan sanad yang shohih :</p>
<h2>مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ</h2>
<p><em>“Siapa yang tidak berniat puasa dari malam hari maka tidak ada puasa baginya.”</em></p>
<p>*     Apabila telah pasti masuk 1 Ramadhan dan berita tentang hal itu   belum diterima kecuali pada pertengahan hari, maka hendaknyalah   bersegera berpuasa sampai maghrib walaupun telah makan atau minum   sebelumnya dan tidak ada kewajiban <em>qodho`</em> atasnya sebagaimana dalam hadits Salamah Ibnul Akwa’ riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :</p>
<h2>بَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ   وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَأَمَرَهُ أَنْ   يُؤْذِنَ فِي النَّاسِ مَنْ كَانَ لَمْ يَصُمْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ كَانَ   أَكَلَ فَلْيُتِمَّ صِيَامَهُ إِلَى اللَّيْلِ</h2>
<p><em>“Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengutus  seorang laki-laki dari Aslam pada hari ‘Asyuro`  (10 Muharram,-pent.)  dengan memerintahkannya untuk mengumumkan kepada  manusia siapa yang  belum berpuasa maka hendaklah ia berpuasa dan siapa  yang telah makan  maka hendaknya dia sempurnakan puasanya sampai malam  hari.”</em></p>
<p><strong>3. Waktu Pelaksanaan Puasa</strong></p>
<p>Waktu puasa bermula dari terbitnya fajar subuh dan berakhir ketika matahari terbenam. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyatakan dalam surah Al-Baqaroh ayat 187 :</p>
<h2>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ   الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا   الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</h2>
<p><em>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang   putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu   sampai malam.”</em></p>
<p><strong>4. Makan Sahur</strong></p>
<p>*     Makan sahur adalah suatu hal yang sangat disunnahkan dalam   syari’at Islam menurut kesepakatan para ulama. Hal itu karena   Rasululllah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> sangat  menganjurkannya dan mengabarkan bahwa pada sahur itu terdapat  berkah  bagi seorang muslim di dunia dan di akhirat sebagaimana dalam  hadits  Anas bin Malik riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<h2>تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً</h2>
<p><em>“Bersahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu ada berkah.”</em></p>
<p>Bahkan beliau menjadikan sahur itu sebagai salah satu syi’ar (simbol)   Islam yang sangat agung yang membedakan kaum muslimin dari orang–orang   yahudi dan nashroni, beliau bersabda dalam hadits ‘Amr bin ‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Muslim :</p>
<h2>فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكَلَةُ السَّحْرِ</h2>
<p><em>“Pembeda antara puasa kami dan puasa ahlul kitab adalah makan sahur.”</em></p>
<p>*     Dan juga disunnahkan mengakhirkan sahur sampai mendekati waktu adzan subuh, sebagaimana Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> memulai makan sahur dalam selang waktu membaca 50 ayat yang tidak   panjang dan tidak pula pendek sampai waktu adzan sholat subuh. Hal   tersebut dinyatakan dalam hadits Zaid bin Tsabit <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<h2>تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ   وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ. قُلْتُ : كَمْ   كَانَ قُدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ خَمْسِيْنَ آيَةً</h2>
<p><em> </em><em>“Kami bersahur bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi  wa ‘ala alihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk sholat. Saya berkata  (Anas bin Malik  yang meriwaytkan dari Zaid,-pent.) : “Berapa jarak  antara keduanya  (antara sahur dan adzan)?”. Ia menjawab : “Lima puluh  ayat”.”</em></p>
<p>*     Dan dari hadits di atas, juga dapat dipetik kesimpulan akan disunnahkannya makan sahur secara bersama.</p>
<p>*     Dan sebaik-baik makanan yang dipakai bersahur oleh seorang mu’min adalah korma. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Abu Dawud dengan sanad yang <em>shohih</em>, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2>نِعْمَ سَحُوْرُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ</h2>
<p><em>“Sebaik-baik sahur seorang mu’min adalah korma.”</em></p>
<p>*     Batas akhir bolehnya makan sahur sampai adzan subuh, apabila   telah masuk adzan subuh maka hendaknya menahan makan dan minum. Hal ini   sebagaimana yang dipahami dari ayat dalam surah Al Baqoroh ayat 187 :</p>
<h2>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ   الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا   الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</h2>
<p><em>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang   putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu   sampai malam.”</em></p>
<p>*     Apabila telah yakin akan masuk waktu subuh dan seseorang sedang   makan atau minum maka hendaknyalah berhenti dari makan dan minumnya.   Ini merupakan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah yang diketuai oleh Syaikh ‘Abdul   ‘Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy   dan beberapa ulama lainnya berdasarkan nash ayat di atas. Adapun  hadits  Abu Daud, Ahmad dan lain-lainnya yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>bersabda :</p>
<h2>إِذَا سَمِعَ أَحُدُكُمُ الْنِدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ</h2>
<p><em>“Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan)   dan bejana berada di tangannya maka janganlah ia meletakkannya sampai ia   menyelesaikan hajatnya (dari bejana tersebut).”</em></p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Abu Hatim. Baca <em>Al-‘Ilal</em> 1/123 no 340 dan 1/256 no 756 dan An-Nashihah Vol. 02 rubrik Hadits.</p>
<p>Dan andaikata hadits ini shohih maka maknanya tidak bisa dipahami  secara zhohir-nya tapi harus dipahami sebagaimana yang dikatakan oleh  Imam Al-Baihaqy dalam <em>Sunanul Kubra</em> 4/218 bahwa yang diinginkan dari hadits adalah ia boleh minum apabila diketahui bahwa si <em>muadzdzin</em> mengumandangkan adzan sebelum terbitnya fajar shubuh, demikianlah menurut kebanyakan para ‘ulama. <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p>*     Apabila seeorang ragu apakah waktu subuh telah masuk atau   tidak, maka diperbolehkan makan dan minum sampai ia yakin bahwa waktu   subuh telah masuk.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah :</p>
<h2>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ   الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا   الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</h2>
<p><em>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang   putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu   sampai malam.” </em>(QS. Al-Baqaroh ayat 187)<em> </em></p>
<p>Ayat ini memberikan pengertian apabila fajar subuh telah jelas nampak   maka harus berhenti dari makan dan minum, adapun kalau belum jelas   nampak seperti yang terjadi pada orang yang ragu di atas masih boleh   makan dan minum.</p>
<p><strong>5. Perkara-Perkara Yang Wajib Ditinggalkan Oleh Orang  Yang Berpuasa</strong></p>
<p>*     Diwajibkan atas orang yang berpuasa untuk meninggalkan makan,   minum dan hubungan seksual. Hal ini tentunya sangat dimaklumi   berdasarkan firman Allah :</p>
<h2>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ   الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا   الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</h2>
<p><em>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang   putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu   sampai malam.”</em><em> </em></p>
<p>Dan dalam hadits Abi Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> menegaskan :</p>
<h2>كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشَرَ   أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِلاَّ   الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ   وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ</h2>
<p><em>“Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi  sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala  berfirman :  “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan  Aku yang  akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa)  meninggalkan  syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (Lafazh hadits bagi  Imam Muslim)</em></p>
<p>*     Diwajibkan meninggalkan perkataan dusta, makan harta riba dan mengadu domba.</p>
<p>*     Juga diharuskan meninggalkan segala perkara yang sia-sia dan tidak berguna.</p>
<p>Dua point di atas berdasarkan dalil-dalil umum akan larangan   melakukan perkara-perkara di atas, dan secara khusus menyangkut puasa   Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> telah menjelaskan dalam hadits Abu Huroiroh <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary :</p>
<h2>مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</h2>
<p><em>“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal   dengannya maka Allah tidak ada hajat/keperluan padanya apabila ia   meninggalkan makan dan minumnya (yaitu pada puasanya, -pent.).”</em></p>
<p>Dan juga dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang <em>hasan</em>, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> menegaskan :</p>
<h2>لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ, إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَفَثِ</h2>
<p><em>“Bukanlah puasa itu sekedar (menahan) dari makan dan minumannya,   namun puasa itu hanyalah (menahan) dari perbuatan sia-sia dan tidak   berguna.”</em></p>
<p>*     Meninggalkan puasa <em>wishol</em>.</p>
<p>Puasa <em>wishol</em> artinya menyambung puasa dua hari berturut-turut atau lebih tanpa berbuka. Puasa <em>wishol</em> adalah haram atas umat ini kecuali bagi Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama.</p>
<p>Hal tersebut berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Umar, Abu Hurairah, ‘Aisyah dan Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhum</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim. Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> menyatakan :</p>
<h2>نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ   وَسَلَّمَ عَنِ الْوِصَالِ قَالُوْا: إِنَّكَ تُوَاصِلُ قَالَ : إِنِّيْ   لَسْتُ مِثْلَكُمْ إِنِّيْ أُطْعَمُ وَأُسْقَى</h2>
<p><em>“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang  dari puasa wishol, maka para sahabat berkata : “Sesungguhnya engkau  melakukan</em><em> </em><em>wishol?”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya saya tidak seperti kalian saya diberi (kekuatan) makan dan minum.”</em></p>
<p><strong>6. Perkara-Perkara Yang Jika Terdapat Pada Orang Yang Berpuasa Boleh Baginya Untuk Berpuasa.</strong></p>
<p>*     Orang yang bangun kesiangan dalam keadaan junub.</p>
<p>Diperbolehkan baginya untuk berpuasa berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<h2>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلََيْهِ وَعَلَى آلِهِ   وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُوَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ   يَغْتَسِلُ وَيَصُوْمُ</h2>
<p><em>“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa  sallam kadang-kadang dijumpai oleh waktu subuh sedang beliau dalam   keadaan junub dari istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.”</em></p>
<p>Tidak ada perbedaan apakah dia junub sebab mimpi atau sebab   berhubungan. Demikian pula wanita yang haid atau nifas yang telah suci   sebelum terbit fajar akan tetapi dia belum sempat mandi takut kesiangan   dia juga boleh berpuasa menurut pendapat yang paling kuat di kalangan   para ‘ulama berdasarkan hadits di atas.</p>
<p>*     Juga diperbolehkan untuk bersiwak bahkan hal tersebut merupakan   sunnah, apakah menggunakan kayu siwak atau dengan sikat gigi.</p>
<p>*     Dan juga dibolehkan menyikat gigi dengan pasta gigi, tetapi   dengan menjaga jangan sampai menelan sesuatu ke dalam kerongkongannya   dan juga jangan mempergunakan pasta gigi yang mempunyai pengaruh kuat ke   dalam perut dan tidak bisa diatasi.</p>
<p>Dua point di atas berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menunjukkan akan disunnahkannya bersiwak seperti hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, <em>Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2>لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صُلَاةٍ</h2>
<p><em>“Andaikata tidak akan memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak  setiap hendak sholat.”</em></p>
<p>Dan dalam riwayat lain Malik, Ahmad, An-Nasa`i dan lain-lainnya dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dengan lafadz :</p>
<h2>َوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ</h2>
<p><em>“Andaikata tidak akan memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak bersama setiap wudhu`.”</em></p>
<p>Dua hadits ini menunjukkan sunnah bersiwak secara mutlak tanpa membedakan apakah dalam keadaan berpuasa atau tidak.</p>
<p>*     Boleh berkumur-kumur dan menghirup air ketika berwudhu`, dengan   ketentuan tidak terlalu dalam dan berlebihan sehingga mengakibatkan  air  masuk ke dalam kerongkongan. Juga tidak ada larangan untuk   berkumur-kumur disebabkan teriknya matahari sepanjang tidak menelan air   ke kerongkongan. Seluruh hal ini  berdasarkan hadits <em>shohih</em> dari Laqith bin Shabirah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em><em> </em>menyatakan :</p>
<h2>وَبَالِغْ فِي الْإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا</h2>
<p><em>“Dan bersungguh-sungguhlah engkau dalam menghirup air kecuali jika engkau dalam keadaan puasa.”</em></p>
<p>Dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan disunnahkannya   berkumur-kumur dan menghirup air dalam wudhu`, juga datang dengan bentuk   umum tanpa membedakan dalam keadaan berpuasa atau tidak.</p>
<p>*     Juga boleh mandi dalam keadaan berpuasa bahkan juga boleh   berenang sepanjang ia menjaga tidak tertelannya air ke dalam   tenggorokannya.</p>
<p>*     Dan juga boleh bercelak untuk mata ketika berpuasa.</p>
<p>Dua point di atas boleh karena tidak adanya dalil yang melarangnya.</p>
<p>*     Dan juga boleh memeluk/bersentuhan dan mencium istri bila mampu   menguasai dirinya. Menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para   ‘ulama.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>bersabda :</p>
<h2>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ   وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ,   وَلَكِنَّهُ كَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ</h2>
<p><em>“Adalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa sallam mencium  dalam keadaan berpuasa dan memeluk dalam keadaan  berpuasa dan beliau  adalah orang yang paling mampu menguasai  syahwatnya.”</em></p>
<p>*     Boleh menelan ludah bagi orang yang berpuasa bahkan lebih dari   itu juga boleh mengumpulkan ludah dengan sengaja di mulut kemudian   menelannya. Adapun dahak tidaklah membatalkan puasa kalau ditelan,   tetapi menelan dahak tidak boleh karena ia adalah kotoran yang   membahayakan tubuh.</p>
<p>*     Boleh mencium bau-bauan apakah itu bau makanan, bau parfum dan lain-lain.</p>
<p>Dua point di atas boleh karena tidak adanya dalil yang melarang.</p>
<p>*     Boleh mencicipi masakan dengan ketentuan menjaganya jangan   sampai masuk ke dalam tenggorokan dan kembali mengeluarkannya. Hal ini   berdasarkan perkataan ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> yang mempunyai hukum <em>marfu’</em> dengan sanad yang hasan dari seluruh jalan-jalannya :</p>
<h2>لَا بَأْسَ أَنْ يَذُوْقَ الصَّائِمُ الْخَلَّ وَالشَّيْءَ الَّذِيْ يُرِيْدُ شَرَاءَهُ مَالَمْ يُدْخُلْ حَلْقَهُ وَهُوَ صَائِمٌ</h2>
<p><em>“Tidak apa-apa bagi orang yang berpuasa mencicipi cuka atau   sesuatu yang ia ingin beli sepanjang tidak masuk ke dalam   tenggorokannya.”</em></p>
<p>*     Boleh bersuntik dengan apa saja yang tidak mengandung makna   makanan dan minuman seperti suntikan vitamin, suntikan kekuatan, infus,   dan lain-lainnya.</p>
<p>Hal ini boleh karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut membatalkan puasa.</p>
<p><strong>7. Hal-Hal Yang Makruh Bagi Orang Yang Berpuasa</strong></p>
<p>*     Berbekam (mengeluarkan darah kotor dari kepala dan anggota   tubuh lainnya) adalah makruh karena bisa mengakibatkan tubuh menjadi   lemas dan menyeret orang berbekam untuk berbuka. Demikian pula halnya   yang semakna dengan ini adalah memberikan donor darah.</p>
<p>Hukum ini merupakan bentuk kompromi dari dua hadits Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em>, yaitu antara hadits <em>mutawatir</em> yang di dalamnya beliau menyatakan :</p>
<h2>أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ</h2>
<p><em>“Telah berbuka orang yang berbekam dan orang yang membekamnya.”</em><em> </em></p>
<p>Dan hadits Ibnu ‘Abbas<em> radhiyallahu ‘anhuma</em> riwayat Al-Bukhary :</p>
<h2>احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ صَائِمٌ</h2>
<p><em>“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbekam dan beliau dalam keadaan berpuasa.”</em></p>
<p>*     Memeluk dan mencium istrinya hingga membangkitkan syahwatnya.</p>
<p>Hal tersebut berdasarkan hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Abu Daud dengan sanad yang <em>shahih</em>, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> berkata :</p>
<h2>أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ   وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَبَاشَرَةِ لِلصَّائِمِ فَرَخَّصَ لَهُ   وَأَتَاهُ آخَرُ فَسَأَلَهُ فَنَهَاهُ فَإِذَا الَّذِيْ رَخَّصَ لَهُ   شَيْخٌ وَالَّذِيْ نَهَاهُ شَابٌّ</h2>
<p><em>“Sesungguhnya seseorang lelaki bertanya kepada Nabi shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa sallam tentang berpelukan/bersentuhan bagi  orang yang berpuasa maka  beliau memberikan keringanan kepadanya (untuk  melakukan hal tersebut)  dan datang laki-laki lain bertanya kepadanya  dan beliaupun melarangnya  (untuk melakukan hal tersebut), ternyata  orang yang diberikan keringanan  padanya adalah orang yang sudah tua dan  yang dilarang adalah seseorang  yang masih muda.”</em></p>
<p>*     Menyambung puasa dari maghrib sampai waktu sahur (puasa <em>wishol</em>)</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary. Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2>لَا تُوَاصِلُوْا فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحْرَ</h2>
<p><em>“Janganlah kalian puasa wishol, siapa yang menyambung maka sambunglah sampai waktu sahur.”</em></p>
<p><strong>8. Pembatal-Pembatal Puasa.</strong></p>
<p>*     Makan dan minum dengan sengaja merupakan pembatal puasa, adapun   kalau seseorang melakukannya dengan tidak sengaja atau lupa, tidaklah   membatalkan puasanya.</p>
<p>Hal ini adalah perkara diketahui secara darurat dan dimaklumi oleh   seluruh kaum muslimin berdasarkan dalil yang sangat banyak. Di antaranya   adalah ayat dalam surah Al-Baqaroh ayat 187 :</p>
<h2>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ   الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا   الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</h2>
<p><em>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang   putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu   sampai malam.”</em></p>
<p>Dan hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> menegaskan :</p>
<h2>كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشَرَ   أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِلاَّ   الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ   وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ</h2>
<p><em>“Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi  sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala  berfirman :  “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan  Aku yang  akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa)  meninggalkan  syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (Lafazh hadits bagi  Imam Muslim)</em></p>
<p>Dan juga hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2>مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ</h2>
<p><em>“Siapa saja yang lupa dan ia dalam keadaan berpuasa lalu ia makan   dan minum, maka hendaknyalah ia sempurnakan puasanya karena   sesungguhnya ia hanyalah diberi makan dan minum oleh Allah.”</em></p>
<p>Pemahaman dari hadits ini bahwa siapa yang makan dan minum dengan sengaja maka batallah puasanya.</p>
<p>*     Suntikan–suntikan penambah kekuatan berupa vitamin dan yang sejenisnya yang masuk dalam makna makan dan minum.</p>
<p>*     Menelan darah mimisan dan darah yang keluar dari bibir juga merupakan pembatal puasa.</p>
<p>Dua point di atas berdasarkan keumuman nash-nash yang tersebut di atas.</p>
<p>*     Muntah dengan sengaja juga membatalkan puasa, adapun kalau muntah dengan tidak sengaja tidak membatalkan.</p>
<p>Hal ini berdasarkan perkataan Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>yang mempunyai hukum <em>marfu’</em>, beliau berkata :</p>
<h2>مَنِ اسْتَقَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ</h2>
<p><em>“Siapa yang sengaja muntah dan ia dalam keadaan berpuasa maka  wajib atasnya untuk membayar qodho` dan siapa yang tidak kuasai menahan  muntahnya  (muntah denga tidak sengaja,-pent.) maka tidak ada qodho`  atasnya.”</em> (Diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang <em>shohih</em>)</p>
<p>*     Haid dan nifas.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau menyatakan :</p>
<h2>كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ</h2>
<p><em>“Adalah hal tersebut (haid,-pent.) menimpa kami dan kami  diperintah untuk meng-qodho` puasa dan tidak diperintah untuk  meng-qodho` sholat.”</em></p>
<p>*     Bersetubuh.</p>
<p>Dalilnya akan disebutkan kemudian insya Allah.</p>
<p><strong>9. Berbuka Puasa.</strong></p>
<p>*    Waktu berbuka puasa adalah ketika siang beranjak pergi dan   matahari telah terbenam dan malampun menyelubunginya. Hal ini   berdasarkan firman Allah Jalla Jalaluhu : dalam</p>
<h2><strong>ثُمَّ أَتمُِّوْا الصِّيَامَ إِلَى اْللِيْلِ</strong></h2>
<p>“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” <strong>(QS. Al-Baqaroh ayat 187)</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan diantara sekian banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini,  adalah hadits Umar bin Khaththab riwayat Al-Bukhari dan Muslim,  Rasulullah <em>Shollallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2><strong>إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنُ هَاهُنِا وَأَدْبَرَ مِنْ هَاهُنَا وَغَابَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَائِمُ</strong></h2>
<p>“Apabila malam telah datang dan siang beranjak pergi serta matahari   telah terbenam maka orang yang berpuasa telah waktunya berbuka.”</p>
<p>*    Disunnahkan mempercepat berbuka puasa ketika telah yakin bahwa   waktunya telah masuk, karena manusia akan tetap berada di dalam kebaikan   selama mereka mempercepat berbuka puasa sebagaimana yang dinyatakan   oleh Rasulullah <em>Shollallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadits Sahl bin Sa’d As-Sa’idy <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Al-Bukhari dan Muslim :</p>
<h2><strong>لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا اْلفِطْرَ</strong></h2>
<p>“Terus-menerus manusia berada di dalam kebaikan selama mereka mempercepat berbuka puasa.”</p>
<p>Bahkan Rasulullah <em>Shollallahu ‘alaihi wa sallam</em> menganggap mempercepat berbuka puasa sebagai salah satu sebab tetap nampaknya agama ini, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> riwayat Ahmad,   Abu Daud dan lain-lainnya dengan sanad yang hasan, beliau menegaskan :</p>
<h2><strong>لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِراً مَا عَجَّلُوْا اْلفِطْرَ, لِأَنَّ اْليَهُوْدَ وَاْلنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَ</strong></h2>
<p>“Terus-menerus agama ini akan nampak sepanjang manusia masih   mempercepat buka puasa karena orang-orang Yahudi dan Nashoro   mengakhirkannya.”</p>
<p>*    Dan Nabi <em>Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> berbuka puasa sebelum sholat Maghrib dengan memakan <em>ruthob</em> (kurma kuning yang mengkal dan hampir matang) dan apabila beliau tidak menemukan <em>ruthob</em> maka beliau berbuka dengan korma (matang) jika tidak menemukan korma maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan Rasulullah <em>Shollallahu ‘alaihi wa sallam</em> beliau berkata :</p>
<h2><strong>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهَ عَلَيْهِ وَعَلَى   آلِهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ, فَإِنْ   لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتُ فَعَلَى ثَمَراتٍ, فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا   حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ</strong></h2>
<p>“Adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa sallam  berbuka dengan beberapa biji ruthob sebelum sholat, apabila  tidak ada  ruthob maka dengan beberapa korma,dan kalau tidak ada korma  maka dengan  beberapa teguk air.<strong> </strong></p>
<p>*    Dan disunahkan memperbanyak do’a ketika berbuka, karena waktu   itu merupakan salah satu tempat mustajabnya (diterimanya) do’a   sebagaimana dalam hadits yang shohih dari seluruh jalan-jalannya.</p>
<p>*    Merupakan suatu amalan yang sangat mulia dan mendapatkan pahala   yang besar apabila seseorang memberikan makanan buka puasa pada   saudaranya yang berpuasa.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Zaid bin Khalid Al-Juhany <em>Radhiyallahu ‘Anhu</em> riwayat Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan sanad yang <em>shohih</em> Rasulullah <em>Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2><strong>مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ إِلاَّ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أًجْرِ الصَّائِمِ شَيءٌ</strong></h2>
<p>“Siapa yang memberikan makanan buka puasa pada orang yang berpuasa   maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa   mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.”</p>
<p><strong>10. Orang–Orang Yang Mendapatkan Keringanan Untuk Tidak Berpuasa</strong></p>
<p>*    Musafir</p>
<p>Secara umum Allah<em> Ta’ala</em> memberikan keringanan kepada musafir yang sedang dalam perjalanan untuk tidak berpuasa.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> dalam surah <strong>Al-Baqaroh ayat 184</strong> :</p>
<h2><strong>فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</strong></h2>
<p>“Maka barang siapa di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan   (lalu ia berbuka) maka (wajib baginya untuk berpuasa) sebanyak hari  yang  dia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan suatu hal yang kita ketahui bersama bahwa perjalanan safar kadang   merupakan perjalanan meletihkan dan kadang perjalanan yang tidak   meletihkan. Adapun perjalanan yang meletihkan, yang paling utama bagi   sang musafir adalah berbuka berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah <em>Radhiyallahu ‘anhuma</em> riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah <em>Shollallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2><strong>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ   وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍفَرَأَى رَجُلاً قَدْ اجْتَمَعَ   النَّاسُ عَلَيْهِ وَقَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ: مَالَهُ قَالُوْا:   رَجُلٌ صَائِمٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ   وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنَ اْلبِرِّ أَنْ تَصُوْمَ فِيْ السَّفَرِ</strong></h2>
<p>“Adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa sallam dalam  perjalanannya dan beliau melihat seorang lelaki telah  dikelilingi oleh  manusia dan sungguh ia telah diteduhi, maka beliau  bertanya :”Ada apa  dengannya?” maka para sahabat menjawab :”Ia adalah  orang yang  berpuasa,” maka Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam  bersabda : “Bukanlah dari kebaikan berpuasa dalam safar”</p>
<p>Kendati demikian, hadits ini tidaklah menunjukkan haramnya berpuasa   dalam perjalanan yang meletihkan karena ada pembolehan dalam syari’at   bagi orang yang mampu untuk berpuasa walaupun dalam perjalanan yang   meletihkan.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits riwayat Malik, Asy-Syafi’I, Ahmad, Abu  Daud dan lain-lainnya dengan sanad yang shohih dari sebagian sahabat  Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau berkata :</p>
<h2><strong>رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ   وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ النَّاسَ فِيْ سَفَرِهِ عَامَ الْفَتْحِ   بِاْلفِطْرِ وَقَالَ تَقَوُّوْا لِعَدُوِّكُمْ وَصَامَ رَسُوْلُ اللهِ   صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ قَالَ   الَّذِيْ حَدَّثَنِيْ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ   عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ بِاْلعَرْجِ يُصِبُ عَلَى رَأسِهِ   الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ اْلعَطْشِ أَوْمِنْ الْحَرِّ</strong></h2>
<p>“Saya melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa sallam  memerintahkan manusia untuk berbuka dalam suatu perjalanan  safar  beliau pada tahun penaklukan Makkah dan beliau berkata  :“Persiapkanlah  kekuatan kalian untuk menghadapi musuh kalian”, dan  Rasulullah  Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sendiri berpuasa. Berkata  Abu Bakar (bin ‘Abdurrahman rawi dari sahabat) sahabat yang bercerita  kepadaku bertutur : ”Sesungguhnya saya melihat Rasulullah Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa sallam di ‘Araj menuangkan air diatas  kepalanya dan beliau dalam  keadaan berpuasa karena kehausan atau karena  kepanasan.”</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan juga dalam hadits Abu Darda’ riwayat Al-Bukhary dan Muslim beliau berkata :</p>
<h2><strong>خَرَجْنَا مَعَ رَسَوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ   وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فِيْ حَرٍّ شَدِيْدٍ  حَتَّى  إِنْ كَانَ أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأسِهِ مِنْ شِدَّةِ   الْحِرِّ وَمَا فِيْنَا صَائِمٌ إِلاَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ   عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ عَبْدُاللهِ بْنُ رَوَاحَةَ</strong></h2>
<p>“Kami keluar bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa  sallam di bulan Ramadhan dalam cuaca yang sangat panas sampai-sampai   salah seorang diantara kami meletakkan tangannya diatas kepalanya   karena panas yang sangat dan tak ada seorangpun yang berpuasa diantara   kami kecuali Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan  Abdullah bin Rawahah.”</p>
<p>Adapun dalam perjalanan yang tidak meletihkan maka berpuasa lebih   utama baginya dari berbuka menurut pendapat yang paling kuat diantara   para ulama. Kesimpulan ini bisa dipahami dari puasa Rasulullah  Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa sallam dalam perjalanan yang  meletihkan pada hadits-hadits di atas.  Juga dimaklumi bahwa menjalankan  kewajiban secepat mungkin adalah lebih  bagus untukmengangkat  kewajibannya, karena itulah dalam posisi  perjalanan yang tidak  meletihkan lebih afdhol baginya untuk berpuasa.</p>
<p>*    Orang yang sakit.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> dalam surat Al-Baqaroh ayat 184 :</p>
<h2><strong>فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</strong></h2>
<p>“Maka barang siapa di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan   (lalu ia berbuka) maka (wajib baginya untuk berpuasa) sebanyak hari  yang  dia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”</p>
<p>*    Wanita haid atau nifas</p>
<p>Berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry riwayat Al-Bukhary dan Muslim <em>Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<h2><strong>أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصِلِّ وَلَمْ تُصَمْ</strong></h2>
<p>“Bukankah wanita apabila haid ia tidak sholat dan tidak puasa.”</p>
<p>Dan wanita yang nifas didalam pandangan syari’at islam hukumnya sama   dengan wanita haid, hal ini berdasarkan hadits Ummi Salamah <em>Radhiyallahu ‘Anha</em> riwayat Imam Al-Bukhary :</p>
<h2><strong>بَيْنَمَا أَنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ   عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعَةٌ فِيْ قَمِيْصَةِ إِذْ حَضَتْ   فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حَيْضِيْ فَقَالَ أَنَفِسْتِ فَقُلْتُ   نَعَمْ فَدَعَانِيْ فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِيْ الْخَمِيْلَةِ</strong></h2>
<p>“Tatkala saya berbaring bersama Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala  alihi  wa sallam di dalam sebuah baju maka tiba-tiba saya haid maka  sayapun  pergi lalu saya mengambil pakaian haidku maka beliau bersabda:  “apakah  kamu nifas,” maka saya menjawab : “Ya.” Lalu beliau memanggilku  lalu  sayapun berbaring bersamanya diatas permadani.”</p>
<p><em> </em></p>
<p>Pertanyaan beliau : “Apakah kamu nifas” padahal Ummu Salamah ketika   itu menjalani haid bukan nifas sebab tidak pernah melahirkan anak dari   Rasulullah <em>Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> menunjukkan bahwa haid dianggap nifas dari sisi hukum dan demikian pula sebaliknya.</p>
<p>*    Laki-laki dan wanita tua yang tidak mampu berpuasa</p>
<p>*    Wanita hamil dan menyusui khawatir akan memberikan dampak   negatif kepada kandungannya, anak yang dalam susuannya atau dirinya   sendiri apabila ia berpuasa.</p>
<p>Dua point diatas berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas riwayat Ibnu Jarud dalam <strong>Al-Muntaqo</strong> dan lain-lainnya dengan sanad yang <em>shohih</em> menjelaskan firman Allah Ta’ala dalam surat<strong> Al-Baqarah 184.</strong><strong> </strong></p>
<h2><strong>وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامٌ مِسْكِيْنِ</strong></h2>
<p>Berkata Ibnu ‘Abbas :</p>
<h2><strong>رَخَّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَاْلعَجُوْزِ   اْلكَبِيْرَةِ فِيْ ذَلِكَ وَهُمَا يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ أَنْ يُفْطِرَا   إِنْ شَاءا أَوْيُطْعِمَا كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْناً وَلاَ قَضَاءَ   عَلَيْهِمَا ثُمَّ نُسِخَ ذَلِكَ فِيْ هَذِهِ اْلآيَةِ فَمَنْ شَهِدَ   مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَثَبَتَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ   وَاْلعَجُوْزُ الْكَبِيْرَةِ إِذَا كَانَا لاَ يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ   وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا   كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنٍَا</strong></h2>
<p>“Diberikan keringanan bagi laki-laki dan wanita tua untuk hal itu   (yaitu untuk tidak berpuasa,-pent) sementara/walaupun keduanya mampu   untuk berpuasa, (diberikan keringanan) untuk berbuka apabila mereka   berdua ingin atau memberi makan satu orang miskin setiap hari dan tidak   ada qodho’ atas mereka  berdua, kemudian hal tersebut dinaskh (dihapus  hukumnya) dalam ayat ini  {barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan  (Ramadhan) maka hendaknya  ia berpuasa} dan kemudian hukumnya  ditetapkan bagi laki-laki dan wanita  tua yang tidak mampu untuk  berpuasa dan juga bagi wanita hamil dan  menyusui apabila keduanya  khawatir (akan membahayakan kandungannya, anak  yang ia susui, atau  dirinya sendiri,-pent), boleh untuk berbuka dan  keduanya membayar  fidyah setiap hari.” (Lafadz hadits oleh Ibnul Jarud)</p>
<p><strong>11. Meng-<em>qodho`</em> (mengganti) Puasa.</strong></p>
<p>*     Diwajibkan meng-<em>qodho`</em> puasa atas beberapa orang :</p>
<ol>
<li>Musafir.</li>
<li>Orang Sakit yang Diharapkan Bisa Sembuh.</li>
</ol>
<p>Yaitu sakit yang menurut para ahli kesehatan atau menurut kebiasaan merupakan penyakit yang bisa disembuhkan.</p>
<p>Dua point di atas berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> :</p>
<h2>فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</h2>
<p><em>“Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam   perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak   hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”</em></p>
<ul>
<li>Wanita yang Menangguhkan Puasa Karena Haid dan Nifas</li>
</ul>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau menyatakan :</p>
<h2>كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ</h2>
<p><em>“Adalah hal tersebut (haid,-pent.) menimpa kami dan kami  diperintah untuk meng-qodho` puasa dan tidak diperintah untuk  meng-qodho` sholat.”</em></p>
<p>Adapun wanita yang nifas dalam pandangan syari’at Islam hukumnya sama dengan wanita haidh sebagaimana yang telah dijelaskan.</p>
<ul>
<li>Muntah dengan Sengaja</li>
</ul>
<p>Hal ini berdasarkan perkataan Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>yang mempunyai hukum <em>marfu’</em>, beliau berkata :</p>
<h2>مَنِ اسْتَقَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ</h2>
<p><em>“Siapa yang sengaja muntah dan ia dalam keadaan berpuasa maka  wajib atasnya untuk membayar qodho` dan siapa yang tidak kuasa menahan  muntahnya (muntah dengan tidak sengaja,-pent.) maka tidak ada qodho`  atasnya.”</em> (Diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang <em>shohih</em>)</p>
<ul>
<li>Makan dan Minum Dengan Sengaja.</li>
</ul>
<p>Orang yang tidak berpuasa karena ketinggalan berita bahwa Ramadhan telah masuk pada hari yang ia tinggalkan.</p>
<p>Hal ini berdasarkan dalil akan wajibnya berpuasa bulan Ramadhan satu   bulan penuh maka jika ia luput sebagian dari bulan Ramadhan maka ia   tidak dianggap berpuasa satu bulan penuh.<a href="http://an-nashihah.com/?p=105#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Tidak ada <em>qodho`</em> atas selain orang-orang tersebut diatas.</p>
<p>*     Waktu Untuk meng-<em>qodho`</em></p>
<p>Waktu untuk meng-<em>qodho`</em> bisa dilakukan setelah Ramadhan  sampai akhir bulan Sya’ban sebagaimana yang dipahami dalam riwayat  Al-Bukhary dan Muslim dari hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,<em> </em>beliau berkata :</p>
<h2>كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا   أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِيْ شَعْبَانَ الشُّغْلَ مِنْ   رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ</h2>
<p><em>“Kadang ada (tunggakan) puasa Ramadhan atasku, maka saya tidak  dapat meng-qadho`nya kecuali pada (bulan) Sya’ban lantaran sibuk  (melayani) Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.” </em></p>
<p>*     Dan ada keluasan didalam mengqodho’nya apakah dengan cara berturut-turut atau secara terpisah.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hukum umum dalam firman Allah <em>Ta’ala</em> :</p>
<h2>فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</h2>
<p><em>“Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”</em></p>
<p>Firman-Nya <em>“pada hari-hari yang lain” </em>adalah umum, apakah dilakukan secara berturut-turut atau secara terpisah.</p>
<p>*     Dan tentunya tidaklah diragukan bahwa mempercepat dalam meng-<em>qodho`</em> puasa adalah perkara sangat yang afdhol (lebih utama).</p>
<p>Hal ini berdasarkan keumuman perintah Allah untuk bersegera dalam kebaikan yang ditunjukkan oleh berbagai dalil dari <em>Al-Qur`an </em>dan <em>As-Sunnah</em>, seperti firman Allah <em>Ta’ala</em> :</p>
<h2>أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ</h2>
<p><em>“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.”</em> (QS. Al-Mukminun : 61)</p>
<p>*     Barangsiapa yang tidak meng-<em>qodho`</em> puasanya hingga masuknya bulan Ramadhan berikutnya, padahal sebelumnya ada kemampuan dan kesempatan baginya untuk meng-<em>qodho`</em> puasanya, maka ia dianggap orang yang berdosa. Hal ini disimpulkan dari pernyataan ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,<em> </em>beliau berkata :</p>
<h2>كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا   أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِيْ شَعْبَانَ الشُّغْلَ مِنْ   رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ</h2>
<p><em>“Kadang ada (tunggakan) puasa Ramadhan atasku, maka saya tidak  dapat meng-qodho`nya kecuali pada (bulan) Sya’ban lantaran sibuk  (melayani) Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.”</em></p>
<p>Hal ini menunjukkan tidak bolehnya mengakhirkan <em>qadho` </em>puasa Ramadhan setelah Sya’ban, sebab andaikata hal tersebut boleh, niscaya ‘Aisyah akan mengakhirkan <em>qadho`</em>nya setelah Ramadhan karena mungkin saja dibulan Sya’ban beliau juga sibuk melayani Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em>.   Berangkat dari sini Imam empat dan jumhur ulama salaf dan khalaf  bahkan  ada dinukil kesepakatan dikalangan ulama akan tidak bolehnya   mengakhirkan <em>qodho`</em> setelah Ramadhan.</p>
<p>*     Adapun jika seseorang tidak mampu sama sekali untuk meng-<em>qodho` </em>puasanya   karena udzur yang terus menerus menahannya seperti orang yang musafir   terus menerus, perempuan yang masa kehamilannya rapat/dekat dan   lain-lainnya, maka tidak ada dosa baginya dan hendaklah mengganti   puasanya kapan ia mampu.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> :</p>
<h2>لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا</h2>
<p><em>“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”</em> (QS. Al-Baqarah : 286)</p>
<p>Bagi orang yang meninggal dan belum meng-<em>qodho`</em> tunggakan puasanya pada bulan Ramadhan padahal sebelumnya ada kemampuan baginya untuk meng-<em>qodho`</em> puasanya, maka wajib atas ahli warisnya untuk membayar tunggakannya.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>bersabda :</p>
<h2>مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ</h2>
<p><em>“Siapa yang meninggal dan atasnya ada tunggakan puasa, maka ahli warisnya berpuasa untuknya.”</em></p>
<p>Adapun kalau meninggal sebelum ada kemampuan yang memungkinan baginya untuk meng-<em>qodho`</em> puasanya maka tidak ada dosa atasnya insya Allah dan juga tidak ada kewajiban atas ahli warisnya untuk membayar tunggakannya.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> :</p>
<h2>لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا</h2>
<p><em>“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”</em> (QS. Al-Baqarah : 286)</p>
<p><strong>12. Ketentuan Membayar Fidyah.</strong></p>
<p>*     Membayar fidyah diwajibkan atas beberapa orang:</p>
<ul>
<li>Laki-laki dan perempuan tua yang tidak mampu berpuasa.</li>
<li>Perempuan hamil dan perempuan menyusui yang khawatir akan   membahayakan kandungannya, anak yang disusuinya, atau dirinya sendiri   jika ia berpuasa.</li>
</ul>
<p>Dua point diatas berdasarkan hadits Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> riwayat Abu Daud, Ibnu Jarud dalam <em>Al-Muntaqo</em> dan lain-lainnya dengan sanad yang <em>shohih</em> menjelaskan firman Allah <em>Ta’ala</em> dalam surat Al-Baqarah 184 :</p>
<h2>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</h2>
<p><em>“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika   mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan   seorang miskin.”</em></p>
<p>Berkata Ibnu Abbas :</p>
<h2>رَخَّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَالْعَجُوْزِ الْكَبِيْرَةِ   فِيْ ذَلِكَ وَهُمَا يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ أَنْ يُفْطِرَا إِنْ شَاءَا   أَوْ يُطْعِمَا كَلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا ثُمَّ   نُسِخَ ذَلِكَ فِيْ هَذِهِ الْآيَةِ فَمْنَ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ   فَلْيَصُمْهُ وَثَبَتَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَالْعَجُوْزِ الْكَبِيْرَةِ   إِذَا كَانَا لَا يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ  إِذَا  خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا</h2>
<p><em>“Diberikan keringanan bagi laki-laki dan wanita tua  dalam hal   itu (yaitu untuk tidak berpuasa,-pent.) sementara keduanya mampu untuk   berpuasa, (diberikan keringanan) untuk berbuka apabila mereka berdua   ingin atau memberi makan satu orang miskin setiap hari dan tidak ada   qodho` atas mereka  berdua, kemudian hal tersebut dinaskh (dihapus  hukumnya) dalam ayat ini  {Barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan  (Ramadhan) maka hendaknya  ia berpuasa}, dan (kemudian) ditetapkan  hukumnya bagi laki-laki dan  wanita tua yang tidak mampu untuk berpuasa  dan juga bagi wanita hamil  dan menyusui apabila keduanya khawatir (akan  memberikan bahaya kepada  kandungannya, anak yang ia susui, atau  dirinya sendiri,-pent.) boleh  untuk berbuka dan keduanya membayar  fidyah setiap hari.”</em> (Lafazh hadits oleh Ibnul Jarud)</p>
<ul>
<li>Orang sakit terus menerus yang tidak diharapkan kesembuhannya.</li>
</ul>
<p>Hal diatas berdasarkan riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas oleh Imam An-Nasa`i dengan sanad yang <em>shahih </em>dalam menafsirkan firman Allah <em>Ta’ala</em> dalam surat Al-Baqarah 184 :</p>
<h2>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</h2>
<p><em>“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika   mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang   miskin.”</em></p>
<p>Berkata Ibnu ‘Abbas<em> radhiyallahu ‘anhuma</em> :</p>
<h2>لَا يُرَخَّصُ فِيْ هَذَا إِلَّا لِلَّذِيْ لَا يُطِيْقُ الصِّيَامَ أَوْ مَرِيْضٌ لَا يُشْفَى</h2>
<p><em> “Tidak diberikan keringanan untuk ini (tidak berpuasa akan   tetapi membayar fidyah) kecuali pada orang tua yang tidak mampu untuk   berpuasa atau pada orang sakit yang tidak bisa sembuh.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>*     Cara membayar fidyah adalah dengan memberikan makan orang   miskin sejumlah hari yang telah ditinggalkan, contoh : apabila ia tidak   berpuasa 15 hari maka ia memberi makan 15 orang miskin.</p>
<p>*     Dan membayar fidyah boleh sekaligus dan boleh sebahagian secara terpisah.</p>
<p>*     Membayar fidyah berdasarkan konteks ayat adalah dengan makanan.   Maka dengan ini kami tegaskan bahwa fidyah tidak boleh diuangkan.</p>
<p>*     Teks ayat sifatnya umum tidak merinci ketentuan tentang jenis   makanan. Jadi kapan suatu makanan dianggap sebagai makanan menurut   kebiasaan manusia di suatu tempat maka hal tersebut telah dianggap   syah/cukup untuk membayar fidyah.</p>
<p>*     Dan banyaknya makanan juga tidak dirinci dalam teks ayat   sehingga ini juga kembali kepada kebiasaan orang banyak di suatu tempat   atau negeri.</p>
<p>*     Namun tidak diragukan akan terpujinya membayar fidyah dengan   makanan yang paling baik dan berharga, berdasarkan firman Allah <em>Jalla wa ‘Azza </em>:</p>
<h2>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ   مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلا   تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا   أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ</h2>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah)   sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang   Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang   buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak   mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan   ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”</em></p>
<p><strong>13. Membayar <em>Kaffarah</em>.</strong></p>
<p>*     <em>Kaffarah</em> adalah denda yang dikenakan atas seseorang dengan tiga syarat pelanggaran:</p>
<ul>
<li>Melakukan hubungan suami istri.</li>
<li>Melakukannya di siang hari Ramadhan.</li>
</ul>
<p>Adapun jika ia melakukannya di malam hari atau di luar bulan   Ramadhan, seperti pada saat ia membayar tunggakan puasa Ramadhannya,   maka tidaklah dikenakan atasnya <em>kaffarah</em>.</p>
<ul>
<li>Dalam keadaan berpuasa.</li>
</ul>
<p>Adapun jika ia melakukan di bulan Ramadhan dan ia dalam keadaan tidak   berpuasa seperti seorang yang kembali dari perjalanan dalam keadaan   tidak berpuasa lalu mendapati istrinya usai mandi suci dari haidh   kemudian keduanya melakukan hubungan maka keadaan seperti ini tidak   dikenakan <em>kaffarah</em>.</p>
<p>*     Dan menurut pendapat yang paling kuat dikalangan para ulama bahwa dikenakan <em>kaffarah</em> atas sang istri jika ia mengaja atau taat pada suaminya dengan kemauannya sendiri untuk melakukan hubungan intim.</p>
<p>*     Seseorang membayar <em>kaffarah</em> adalah dengan memilih salah satu dari tiga jenis <em>kaffarah</em> berikut ini secara berurut sesuai kemampuannya :</p>
<ol>
<li>Membebaskan budak. Tidak ada perbedaaan antara budak kafir dengan budak muslim menurut pendapat yang paling kuat.</li>
<li>Berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa terputus. Dan jumhur ulama   mensyaratkan agar dua bulan ini jangan terputus dengan bulan Ramadhan   dan hari-hari yang terlarang berpuasa padanya yaitu hari ‘Idul Fitri,   ‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq. Dan apabila ia berpuasa kurang dari  dua bulan maka belumlah dianggap membayar <em>kaffarah</em>.</li>
<li>Memberi makan 60 orang miskin dengan sesuatu yang dianggap makanan   dalam kebiasaan kebanyakan manusia. Kadar makanan untuk setiap orang   miskin sebanyak satu <em>mud </em>yaitu sebanyak dua telapak tangan orang biasa.</li>
</ol>
<p>*     Tidak syah membayar <em>kaffarah</em> dengan selain dari tiga jenis di atas.</p>
<p>*     Apabila tidak ada kemampuan untuk membayar dari salah satu dari tiga jenis di atas maka kewajiban membayar <em>kaffarah</em> tersebut tetap berada di atas pundaknya sampai ia mempunyai kemampuan untuk membayarnya.</p>
<p>Seluruh keterangan di atas dipetik dari makna yang tersurat maupun   tersirat dari kandungan hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhary dan   Muslim :</p>
<h2>جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى   آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ وَمَا   أَهْلَكَكَ ؟ قَالَ : وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِيْ فِيْ رَمَضَانَ (وَأَنَا   صَائِمٌ) قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ   تَسْتَطِيْعُ أَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا قَالَ   فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سَتِّيْنَ مِسْكِيْنًا قَالَ لَا قَالَ ثُمَّ   جَلَسَ فَأُتِيَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ  وَسَلَّمَ  بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَاذَا قَالَ  أَفْقَرُ مِنَّا  ؟ فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ  إِلَيْهِ مِنَّا  فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ  وَسَلَّمَ حَتَّى  بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ  أَهْلَكَ.</h2>
<p><em>“Seorang lelaki datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala  alihi  wa sallam lalu berkata : “Saya telah binasa wahai Rasulullah,  beliau  berkata : “Apakah yang membuatmu binasa,? ia berkata : “Saya  telah  menggauli (hubungan intim dengan) istriku dalam (bulan) Ramadhan   {padahal saya sedang berpuasa}<a href="http://an-nashihah.com/?p=105#_ftn2"><strong>[2]</strong></a>.”   Maka beliau bersabda : “Apakah engkau mampu membebaskan budak ?” , ia   berkata : “Tidak.”, beliau bertanya : “Apakah kamu mampu berpuasa dua   bulan berturut-turut ?”, ia berkata : “Tidak.”, beliau bertanya :   “Apakah kamu mampu untuk memberi makan enam puluh orang miskin ?” ia   berkata : “Tidak.” Lalu iapun duduk. Kemudian dibawakan kepada Nabi   shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wa sallam satu ‘araq (tempat yang  sekurang-kurangnya dapat memuat 60  mud,-pent.) berisi korma, maka  beliau berkata kepadanya :  “Bershadaqahlah engkau dengan ini.”, ia  berkata : “(Apakah) diberikan  kepada orang lebih fakir dari kami?,  tidak ada antara dua bukit Madinah  keluarga yang lebih fakir dari  kami.” Maka tertawalah Rasulullah  shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa  sallam hingga nampak gigi taring beliau kemudian beliau berkata :  “Pergilah dan beri makan keluargamu dengannya.”</em></p>
<p><strong>14. Beberapa Kesalahan Dalam Pelaksanaan Puasa Ramadhan.</strong></p>
<p>*     Menentukan masuknya bulan Ramadhan dengan menggunakan ilmu falak atau ilmu hisab.</p>
<p>Hal ini tentunya merupakan kesalahan yang sangat besar dan bertolak belakang dengan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em>.</p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla </em>menegaskan dalam surat Al-Baqaroh ayat 185 :</p>
<h2>فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</h2>
<p><em>“Maka barangsiapa dari kalian yang menyaksikan bulan, hendaknya ia berpuasa.”</em></p>
<p>Dan juga dari hadits Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim dan hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam</em> :</p>
<h2>صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعَدُّوْا ثَلَاثِيْنَ</h2>
<p><em>“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian   karena melihatnya dan apabila bulan tertutup atas kalian maka   sempurnakanlah tiga puluh.”</em></p>
<p>Dalam ayat dan hadits di atas sangatlah jelas menunjukkan bahwa   masuknya Ramadhan terkait dengan melihat atau menyaksikan hilal dan   tidak dikaitkan dengan menghitung, menghisab dan yang lainnya.</p>
<p>*     <strong>Mempercepat makan sahur</strong></p>
<p>Hal ini tentunya bertentangan dengan sunnah Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>yang beliau mengakhirkan sahurnya sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya.</p>
<p>*     <strong>Menjadikan tanda imsak sebagai batasan waktu sahur</strong></p>
<p>Sering terdengar di bulan Ramadhan tanda-tanda imsak seperti suara   sirine, suara rekaman ayam berkokok, suara beduk dan lain-lainnya, yang   diperdengarkan sekitar seperempat jam sebelum adzan. Tentunya hal ini   merupakan kesalahan yang sangat besar dan bid’ah sesat lagi bertolak   belakang dengan tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>yang mulia.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyatakan dalam surah Al-Baqaroh ayat 187 :</p>
<h2>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ   الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا   الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</h2>
<p><em>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang   putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu   sampai malam.”</em></p>
<p>Dan Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>menyatakan dalam hadits Abdullah bin ‘Umar riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<h2>إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى تَسْمَعُوْا تَأْذِيْنَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُوْمٍ</h2>
<p><em>“Sesungguhnya Bilal adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar seruan adzan Ibnu Ummi Maktum.”</em></p>
<p>Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa batasan dan akhir makan   sahur adalah adzan kedua yaitu adzan untuk sholat subuh. Inilah   seharusnya yang dipegang oleh kaum muslimin yaitu menjadikan waktu adzan   subuh sebagai batasan terakhir makan sahur dan meninggalkan tanda  imsak  yang tidak pernah dikenal oleh Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>dan para sahabatnya.</p>
<p>*     <strong>Melafadzkan niat puasa ketika makan sahur</strong></p>
<p>Dan in juga merupakan perkara yang salah karena waktu niat tidak   dikhususkan pada makan sahur saja, bahkan bermula dari terbenamnya   matahari sampai terbitnya fajar sebagaimana yang telah kami jelaskan.   Dan melafadzkan niat juga perkara baru dalam agama ini yang tidak pernah   dicontohkan oleh Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>dan para sahabatnya.</p>
<p>*     <strong>Meninggalkan berkumur dan menghirup air ketika ber<em>wudhu`</em></strong></p>
<p>Ini juga merupakan kesalahan yang banyak terjadi di kalangan kaum   muslimin. Mereka menganggap bahwa berkumur-kumur dan menghirup air   merupakan pembatal puasa padahal berkumur-kumur dan menghirup air   merupakan perkara yang disunnahkan dalam syari’at Islam sebagaimana yang   telah dijelaskan.</p>
<p>*     <strong>Anggapan tidak bolehnya menelan ludah</strong></p>
<p>Hal ini juga kadang kita dapati pada kaum muslimin sehingga kita   kadang mendapati sebahagian kaum muslimin yang banyak meludah pada saat   puasa. Tidakkah diragukan bahwa hal ini merupakan sikap berlebihan dan   memberatkan diri tanpa dilandasi dengan tuntunan yang benar dalam   syari’at Islam.</p>
<p>*     <strong>Mengakhirkan buka puasa</strong></p>
<p>Ini juga kesalahan yang banyak terjadi di kalangan kaum muslimin padahal tuntunan Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam </em>sangatlah jelas akan sunnahnya mempercepat buka puasa sebagaimana yang telah kami jelaskan.</p>
<p>*     <strong>Menghabiskan waktu di bulan ramadhan untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat.</strong></p>
<p>*     <strong>Perasaan ragu mencicipi makanan</strong>,  padahal hal  tersebut adalah boleh sepanjang menjaga jangan sampai  menelan makanan  tersebut sebagaimana terdahulu keterangannya.</p>
<p>*     <strong>Menyibukkan diri  dengan pekerjaan-pekerjaan rumah  tangga sehingga melalaikannya dari  ibadah di bulan Ramadhan khususnya  pada sepuluh hari terakhir</strong>.</p>
<p>*    <strong> Membayar fidyah sebelum meninggalkan puasanya</strong>.   Seperti wanita hamil 6 bulan yang tidak akan berpuasa di bulan   Ramadhan, lalu ia membayar fidyah untuk 30 hari sebelum Ramadhan atau di   awal Ramadhan. Tentunya ini adalah perkara yang salah karena kewajiban   membayar fidyah dibebankan atasnya apabila ia telah meninggalkan  puasa.</p>
<p>Demikian tuntunan ringkas ini, mudah-mudahan bisa menjadi bekal untuk   kita semua dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan yang agung dan mulia.  <em>Wallahu Ta’ala A’lam</em></p>
<hr size="1" />
<div><a href="http://an-nashihah.com/?p=105#_ftnref1">[1]</a> Demikian  pendapat yang dahulu kami anggap kuat . Kemudian belakangan ini  kami  memandang bahwa pendapat yang kuat adalah tidak bisa di-<em>qodho`</em>.   Uraiannya insya Allah akan kami tulis dalam rangkaian buku khusus   berkaitan dengan tuntunan lengkap dan mendetail seputar puasa.  <em>Wallahul Muwaffiq</em>.<a href="http://an-nashihah.com/?p=105#_ftnref2">[2]</a> Tambahan dalam riwayat Al-Bukhary.</div>
<div><em><br />
</em></div>
<div><em>Sumber:<br />
</em></div>
<div><em>http://an-nashihah.com/?p=99</em></div>
<div><em>http://an-nashihah.com/?p=105</em></div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/sajian-utama/'>Sajian Utama</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a> Tagged: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/puasa/'>puasa</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/ramadhan/'>ramadhan</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/ust-dzulqarnain/'>ust.dzulqarnain</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=691&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/13/panduan-puasa-ramadhan-di-bawah-naungan-al-quran-dan-as-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semarak Ramadhan 1431H Masjid Fatahillah, Tanah Baru, Depok</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/12/semarak-ramadhan-1431h-masjid-fatahillah-tanah-baru-depok/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/12/semarak-ramadhan-1431h-masjid-fatahillah-tanah-baru-depok/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 13:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[depok]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[masjid fatahillah]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[http://problemamuslim.wordpress.com/2010/08/12/semarak-ramadhan-1431h-masjid-fatahillah-tanah-baru-depok/ Filed under: Info Dakwah, Semua Artikel Tagged: depok, jadwal, kajian, masjid fatahillah, ramadhan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=687&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter" title="SCHEDUL SEMARAK REMADHAN DI MASJID FATAHILLAH DEPOK" src="http://problemamuslim.files.wordpress.com/2010/08/schedulesemarakramadhan.jpg?w=509&#038;h=720" alt="" width="509" height="720" /></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<address>http://problemamuslim.wordpress.com/2010/08/12/semarak-ramadhan-1431h-masjid-fatahillah-tanah-baru-depok/</address>
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/info-dakwah/'>Info Dakwah</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a> Tagged: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/depok/'>depok</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/jadwal/'>jadwal</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/kajian/'>kajian</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/masjid-fatahillah/'>masjid fatahillah</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/ramadhan/'>ramadhan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/687/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=687&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/12/semarak-ramadhan-1431h-masjid-fatahillah-tanah-baru-depok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://problemamuslim.files.wordpress.com/2010/08/schedulesemarakramadhan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SCHEDUL SEMARAK REMADHAN DI MASJID FATAHILLAH DEPOK</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Audio: Taklim Minggu ke-1 Bulan Agustus 2010 di Masjid Al Ghoniy Palembang</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/10/audio-taklim-minggu-ke-1-bulan-agustus-2010-di-masjid-al-ghoniy-palembang/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/10/audio-taklim-minggu-ke-1-bulan-agustus-2010-di-masjid-al-ghoniy-palembang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 11:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download Audio]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Rutin]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[masjid al ghoniy palembang]]></category>
		<category><![CDATA[taklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini kajian membahas tentang Musuh-musuh Tauhid dari kitab Firqotun najiyah karya Syaikh Jamil Zainu. oleh Ust. Bilal (Dari Pondok Pesantren Dhiyaaus salaf, Muara enim),  Berikut link untuk download kajiannya, afwan masih berformat .amr : Musuh-musuh Tauhid Lanjutan Filed under: Download Audio, Kajian Islam, Kajian Rutin, Semua Artikel Tagged: masjid al ghoniy palembang, taklim<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=724&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini kajian membahas tentang <strong>Musuh-musuh Tauhid</strong> dari <em>kitab Firqotun najiyah karya Syaikh Jamil Zainu</em>. oleh <strong>Ust. Bilal </strong>(Dari Pondok Pesantren Dhiyaaus salaf, Muara enim),  Berikut link untuk download kajiannya, afwan masih berformat .amr :</p>
<p><a href="http://www.4shared.com/account/file/8u46vhgW/Firqotun_Najiyah.html">Musuh-musuh Tauhid</a></p>
<p><a href="http://www.4shared.com/file/Pef1HQeJ/Lnjtn_Firqotun_Najia.html">Lanjutan</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/download-audio/'>Download Audio</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/'>Kajian Islam</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/kajian-rutin/'>Kajian Rutin</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a> Tagged: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/masjid-al-ghoniy-palembang/'>masjid al ghoniy palembang</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/tag/taklim/'>taklim</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/724/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=724&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/08/10/audio-taklim-minggu-ke-1-bulan-agustus-2010-di-masjid-al-ghoniy-palembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Audio: Taklim Minggu ke-4 Bulan Juli 2010 di Masjid Al Ghoniy Palembang</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/07/26/audio-taklim-minggu-ke-4-bulan-juli-2010/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/07/26/audio-taklim-minggu-ke-4-bulan-juli-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 14:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download Audio]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Rutin]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, Setelah libur hampir dua pekan karena para Asatidz berangkat ke Bantul untuk menghadiri Dauroh Masyaikh beberapa waktu lalu, alhamdulillah akhirnya kajian di minggu ke 4 di bulan Juli ini dapat diadakan kembali di Masjid Al Ghony Palembang. Berikut 3 sesi yang disampaikan oleh Ust. Bilal (Dari Pondok Pesantren Dhiyaaus salaf, Muara enim),  sesi pertama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=651&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bismillah, Setelah libur hampir dua pekan karena para Asatidz berangkat ke Bantul untuk menghadiri Dauroh Masyaikh beberapa waktu lalu, alhamdulillah akhirnya kajian di minggu ke 4 di bulan Juli ini dapat diadakan kembali di Masjid Al Ghony Palembang. Berikut 3 sesi yang disampaikan oleh <strong>Ust. Bilal </strong>(Dari Pondok Pesantren Dhiyaaus salaf, Muara enim),  sesi pertama masih  membahas tentang <strong>Musuh-musuh Tauhid</strong> dari <em>kitab Firqotun najiyah karya Syaikh Jamil Zainu</em>. Sesi kedua membahas tentang <strong>Muroqobah</strong> dari <em>kitab washaya al aba lil abna karya Syaikh Ahmad Syakir</em>. Terakhir adalah sesi tanya jawab. Untuk sesi ke dua  suaranya sedikit kurang jelas, karena saat itu sedang turun hujan.<span id="more-651"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut link untuk download kajiannya, afwan masih berformat .amr :</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Musuh-Musuh Tauhid-ust. Bilal" href="http://www.4shared.com/account/file/vN8IA2SH/1_Musuh_tauhid__kitab_firqotun.html">Sesi 1: Musuh-musuh Tauhid-Firqotun najiyah (Ust. Bilal)</a><a href="http://www.4shared.com/file/1SkRC5os/2_Muroqobah__kitab_Washaya_Al-.html"></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.4shared.com/file/1SkRC5os/2_Muroqobah__kitab_Washaya_Al-.html">Sesi 2: Muroqobah-washoya al aba lil abna (Ust. Bilal)</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.4shared.com/file/ai7cJ10t/Tanya_jawab.html">Tanya jawab</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/download-audio/'>Download Audio</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/kajian-islam/kajian-rutin/'>Kajian Rutin</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=651&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/07/26/audio-taklim-minggu-ke-4-bulan-juli-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa dibulan Sya&#8217;ban</title>
		<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/07/23/puasa-dibulan-syaban/</link>
		<comments>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/07/23/puasa-dibulan-syaban/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 15:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alfalimbany.wordpress.com/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[Diantara bulan yang dianjurkan memperbanyak puasa adalah dibulan sya’ban. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau berkata: فما رأيت رَسُولَ اللَّهِ  اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلا رَمَضَانَ وما رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ “aku tidak pernah melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali ramadhan,dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=643&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Diantara bulan yang dianjurkan memperbanyak puasa adalah dibulan sya’ban. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;">فما رأيت رَسُولَ اللَّهِ  اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلا رَمَضَانَ وما رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ</h2>
<p style="text-align:justify;">“aku tidak pernah melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali ramadhan,dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari bulan sya’ban,” (HR.Bukhari:1868)<span id="more-643"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kecuali pada hari-hari terakhir,sehari atau dua hari sebelum ramadhan ,tidak diperbolehkan berpuasa pada hari itu,terkecuali seseorang yang menjadi hari kebiasaannya berpuasa maka dibolehkan,seperti seseorang yang terbiasa berpuasa senin kamis,lalu sehari atau dua hari tersebut bertepatan dengan hari senin atau kamis. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam bahwa beliau bersabda:</p>
<h2 style="text-align:right;">لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ ولا يَوْمَيْنِ إلا رَجُلٌ كان يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ</h2>
<p style="text-align:justify;">“Janganlah kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari dan dua hari,kecuali seseorang yang biasa berpuasa pada hari itu maka boleh baginya berpuasa. (HR.Muslim:1082)</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah senantiasa menambah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh kita yang senantiasa diterima disisi-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dikutip dari: Darussalaf.org Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi Judul: Puasa-Puasa Sunnah</p>
<br />Filed under: <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/artikel-islam/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://alfalimbany.wordpress.com/category/semua-artikel/'>Semua Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alfalimbany.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alfalimbany.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alfalimbany.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alfalimbany.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alfalimbany.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alfalimbany.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alfalimbany.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alfalimbany.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alfalimbany.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alfalimbany.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alfalimbany.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alfalimbany.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alfalimbany.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alfalimbany.wordpress.com/643/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alfalimbany.wordpress.com&amp;blog=10077677&amp;post=643&amp;subd=alfalimbany&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alfalimbany.wordpress.com/2010/07/23/puasa-dibulan-syaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Al Falimbany</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
